Solving Problems: Ditendang Trump, Pencipta Senjata Canggih AS Kalah di Pengadilan
Ditendang Trump, Pencipta Senjata Canggih AS Kalah di Pengadilan
Pengadilan banding federal di Washington, D.C. menolak upaya Anthropic untuk memblokir keputusan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DOD) yang menempatkan perusahaan pengembang kecerdasan buatan tersebut dalam daftar hitam. Putusan ini memastikan bahwa Anthropic tetap dilarang terlibat dalam proyek Pentagon hingga proses hukum selesai. Perusahaan ini dikenal karena model AI-nya digunakan dalam sistem pertahanan dan jaringan rahasia militer.
Keputusan pengadilan menyatakan bahwa kepentingan pemerintah lebih mendesak dibandingkan risiko finansial yang relatif kecil bagi Anthropic. Dalam putusannya, pengadilan mengatakan, “
Di satu sisi terdapat kerugian finansial terbatas bagi satu perusahaan swasta. Di sisi lain, pentingnya mengendalikan teknologi AI kritis selama konflik militer aktif.
“
Sebagai akibatnya, kontraktor pertahanan dilarang menggunakan model AI Claude milik Anthropic dalam proyek militer. Namun, teknologi ini tetap bisa dioperasikan di luar kesepakatan dengan Pentagon. Label “risiko rantai pasok” yang diberikan Pentagon sejak awal Maret menunjukkan ketakutan terhadap potensi ancaman keamanan nasional.
Kebijakan ini cukup mengejutkan, karena Anthropic pertama kali mengintegrasikan AI-nya ke jaringan rahasia DOD. Teknologi mereka juga dinilai efektif beroperasi bersama perusahaan besar seperti Palantir. Meski telah mendapatkan kontrak senilai 200 juta dolar AS pada Juli lalu, negosiasi lebih lanjut terkait penggunaan AI di platform GenAI.mil terhenti.
Ketidaksepakatan muncul dari perbedaan prioritas. Pentagon ingin akses penuh ke model AI untuk keperluan militer, sementara Anthropic meminta jaminan teknologi tidak akan digunakan untuk senjata otonom atau pengawasan domestik. Kebijakan ini diputuskan secara politik, setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut Anthropic sebagai ancaman, disusul perintah Presiden Donald Trump untuk segera menghentikan penggunaannya.
Jaksa Agung AS Todd Blanche menyambut putusan pengadilan sebagai kemenangan bagi kesiapan militer. “Kontrol operasional dan kekuasaan militer berada di tangan Panglima Tertinggi serta Departemen Pertahanan, bukan perusahaan teknologi,” tulisnya dalam pernyataan. Meski kalah sementara, Anthropic tetap optimis bahwa pengadilan akan menghukum label “risiko rantai pasok” sebagai tidak sah.