Solving Problems: Pengrajin keripik tempe di Jaksel naikkan harga imbas lonjakan kedelai
Jakarta Selatan – Produsen Keripik Tempe Terpaksa Naikkan Harga Akibat Lonjakan Biaya Impor Kedelai
Kenaikan harga kedelai impor yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir memaksa produsen keripik tempe di Jakarta Selatan (Jaksel) melakukan penyesuaian harga jual produk mereka. Hal ini dipicu oleh berbagai dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Menurut Joko Asori, Ketua kelompok pengrajin tempe Kramat Pela, harga keripik tempe yang sebelumnya Rp65.000 per kilogram kini mencapai Rp70.000 per kg.
Pengaruh Fluktuasi Harga Terhadap Penjualan
Sebagai dampak dari kenaikan biaya bahan baku, Joko menjelaskan bahwa harga satu bungkus keripik tempe berat 250 gram harus meningkat menjadi Rp19 ribu. Ia menuturkan, lonjakan harga kedelai mulai terasa sejak Februari 2026, ketika harga mencapai Rp930.000 per kuintal. Pada April 2026, kenaikan harga kedelai terus menguat hingga mencapai Rp1.100.000 per kuintal, bahkan lebih tinggi.
“Apa ada dampaknya dengan antara Iran dengan Amerika, saya sendiri nggak tahu. Yang jelas, saat ini pengrajin tempe dan tahu itu sangat-sangat memerlukan modal banyak karena dari per kuintal itu, naiknya kurang lebih hampir Rp200.000 atau Rp170.000 per kuintal. Itu baru bahan bakunya, ya,” ujar Joko.
Menyadari tantangan ini, Joko mengatakan produsen keripik tempe juga mengalami kenaikan harga bahan plastik. Biaya plastik yang sebelumnya Rp32.000-Rp33.000 per kilogram kini mencapai Rp50.000 bahkan lebih. Untuk mengimbangi biaya produksi, beberapa produsen mengurangi berat produknya. Contohnya, keripik tempe yang sebelumnya dijual per kilogram Rp12.500, kini disesuaikan menjadi 970 gram dengan pengurangan sebesar 30 gram.
Harapan Terhadap Dukungan Pemerintah
Joko berharap masyarakat tetap setia membeli produk mereka meski harga mengalami kenaikan. Ia juga menyampaikan aspirasi kepada pemerintah untuk memberikan dukungan lebih besar kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. “Kami sebagai pengrajin UMKM, pengrajin tempe, mohon kiranya pemerintah bisa memperhatikan, agar harga kembali normal,” imbuhnya.
Ketahanan Pangan Nasional Dipastikan Aman
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memastikan bahwa ketersediaan pangan di Indonesia tetap terjaga meski terjadi ketegangan di Timur Tengah. Menurutnya, negara ini tidak sepenuhnya bergantung pada impor dari kawasan tersebut. Stok dan pengadaan bahan pangan dalam negeri dianggap aman dan terkendali. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan menghindari pembelian berlebihan.