Solution For: Asosiasi logistik: Usulan 4 pelabuhan Bali perlu kajian lebih lanjut

Asosiasi Logistik: Usulan Pembangunan 4 Pelabuhan di Bali Perlu Analisis Lebih Mendalam

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Akbar Djohan menyoroti bahwa rencana pembangunan empat pelabuhan logistik baru di Bali perlu diperiksa secara menyeluruh, khususnya dari aspek keterhubungan dan siapnya ekosistem industri pendukung. “Bukan soal banyaknya pelabuhan, tetapi bagaimana hubungan antara pelabuhan yang sudah ada dengan penerima kargo atau sistem industri yang berjalan,” ujarnya dalam konferensi pers ALFI Convex 2026 di Jakarta, Kamis. Menurut Akbar, proyek pelabuhan sebelumnya yang didanai negara belum menunjukkan dampak signifikan pada perekonomian, sehingga menjadi pelajaran penting dalam mengevaluasi investasi di sektor kepelabuhanan.

Pelabuhan Tidak Menjamin Efisiensi Logistik

Akbar menegaskan bahwa keberhasilan pelabuhan tidak ditentukan oleh jumlahnya, melainkan oleh kualitas koneksi dengan sistem ekonomi. “Saran saya adalah menilai faktor pendukungnya, terutama ekosistem industri. Jangan sampai pembangunan pelabuhan menjadi pemborosan,” terangnya. Dalam konteks ini, ia menyoroti bahwa Indonesia telah memiliki sekitar 2.700 pelabuhan, tetapi masalah utama tetap berupa ketidakseimbangan koneksi antar daerah.

“Makanya dengan pelabuhan yang sekarang ada, sekitar 2.700, itu belum bisa disebut pelabuhan tikus. Masalah yang dihadapi adalah kurangnya hubungan yang efektif antar pelabuhan dan antar pulau, sehingga biaya logistik kita masih tinggi,” jelas Akbar.

Gubernur Bali Usulkan Empat Pelabuhan Baru untuk Mengurangi Kepadatan

Sebelumnya, Gubernur Bali I Wayan Koster mengajukan inisiatif pembangunan empat pelabuhan angkutan logistik untuk mengatasi kepadatan lalu lintas antar pulau. Empat lokasi yang diusulkan terletak di Celukan Bawang dan Sangsit, Kabupaten Buleleng; Amed, Kabupaten Karangasem; serta Gunaksa, Kabupaten Klungkung. Koster menjelaskan, peningkatan volume transportasi dari Jawa ke Bali terjadi karena meningkatnya jumlah penumpang dan wisatawan, terutama setelah jaringan tol Jawa semakin dekat dengan wilayah Banyuwangi.

“Mengapa kami mengusulkan ini? Karena transportasi dari Jawa ke Bali semakin meningkat. Banyak wisatawan kini lebih memilih kendaraan pribadi daripada transportasi udara, karena jalan tol Jawa sudah mendekat ke Banyuwangi,” kata Koster.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *