Latest Program: Komisi VII soroti keberlanjutan industri air minum dalam kemasan
Komisi VII Soroti Keberlanjutan Industri AMDK
Kabupaten Bekasi menjadi tempat kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI, yang fokus pada aspek keberlanjutan industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Aspek utama yang ditinjau mencakup pengelolaan sumber daya air dan pengelolaan limbah plastik untuk memastikan produksi sesuai aturan. Wakil Ketua Komisi VII, Chusnunia Chalim, menjelaskan bahwa tujuan utama adalah menjaga keberlanjutan industri AMDK.
Pembentukan Tim Khusus AMDK
Chusnunia menyatakan bahwa pembentukan panitia khusus atau Panja AMDK dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap akses air bersih dan dampak lingkungan. Ia menekankan perlunya pengawasan terhadap seluruh proses produksi agar mencapai standar sustainability. “Kita ingin memastikan industri AMDK berjalan sesuai regulasi, termasuk prinsip keberlanjutan,” ujarnya.
Dalam proses bahan baku, Komisi VII memastikan perusahaan tidak menggunakan air tanah langsung, tetapi melalui sistem kawasan industri terpadu. Kerja sama pembelian air curah dari perusahaan daerah atau pemerintah daerah diusulkan sebagai solusi. “Perusahaan wajib menjaga keberlanjutan sumber daya air, misalnya dengan membangun embung agar air lebih lama tersimpan di darat,” tambahnya.
Isu Limbah Plastik
Komisi VII juga menyoroti penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Chusnunia menilai volume sampah plastik meningkat setiap tahun, namun pengelolaannya belum optimal. Saat ini, tingkat daur ulang melalui ekonomi sirkular belum mencapai 30 persen, sementara sebagian besar limbah berakhir di tempat pembuangan akhir atau merusak lingkungan.
“Kalau tidak dikelola dengan baik, plastik bisa mencemari laut, sungai, hingga hutan,” ujarnya.
Komisi VII mendorong peningkatan daur ulang serta pengembangan sistem pengelolaan sampah, termasuk menghubungkan bank sampah dengan industri sebagai pihak yang menyerap limbah. Upaya ini memerlukan kerja sama lintas sektor agar mampu menyesuaikan skala produksi yang besar.
Inovasi dan Kemandirian Industri
Di sisi lain, Komisi VII mengingatkan pentingnya inovasi bahan baku plastik ramah lingkungan berbasis bioteknologi. Penguatan kemandirian industri dalam negeri juga menjadi perhatian, mengingat sebagian besar bahan baku masih diimpor.
Direktur PT. Tirta Alam Segar, Ricky Tjahjono, mengatakan bahwa perusahaan berkomitmen menyediakan air minum berkualitas dengan harga terjangkau. “Kami ingin produk kami dinikmati masyarakat luas, sekaligus berkontribusi pada akses air bersih,” jelasnya.
Ricky menambahkan bahwa pasokan air baku diambil dari pengelola kawasan industri MM2100, yang terhubung dengan Perumda Tirta Bhagasasi. Ini secara tidak langsung mendukung perusahaan daerah. “Kami juga menerapkan sistem pengolahan limbah cair dengan standar tinggi,” ujarnya.
Regulasi dan Edukasi Konsumen
Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0, Andi Rizaldi, menegaskan bahwa AMDK wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). “Semua produsen AMDK harus ber-SNI untuk menjamin keselamatan dan kesehatan masyarakat,” katanya.
Ia juga menyebut pemerintah sedang mendorong edukasi konsumen, termasuk rencana klasifikasi kadar gula pada produk minuman. “Upaya ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko kesehatan,” tambah Andi Rizaldi.
Chusnunia menyoroti kontribusi PT. TAS melalui CSR-nya, terutama dalam penanganan bencana. Namun, ia juga menekankan perlunya pengembangan program yang lebih berkelanjutan, khususnya di wilayah dengan akses air bersih terbatas.