Main Agenda: Mahasiswa UI kembangkan inovasi penggunaan parfum praktis berbasis AI
Mahasiswa UI kembangkan inovasi penggunaan parfum praktis berbasis AI
Depok – Tiga mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) berhasil merancang alat inovatif berupa perangkat wearable yang membawa pengalaman penggunaan parfum lebih praktis, konsisten, dan personal. Tim Ounurscens, yang terdiri dari Athar Hisyam Fadhilah, Muhammad Ihsan Djojodiwirjo, dan Hafizh Muhammad (Jurusan Ilmu Komunikasi 2022), menghadirkan solusi ini untuk menjawab kebutuhan profesional dengan mobilitas tinggi yang ingin tetap terlihat menarik sepanjang hari.
Perangkat melepaskan aroma secara otomatis
Inovasi ini dirancang untuk dipasang pada pakaian dan mampu melepaskan aroma secara otomatis, tanpa perlu penggunaan manual. “Kami mengamati pengguna parfum luxury sering kesulitan menjaga keharuman karena parfum konvensional memerlukan repot dalam pengaplikasian ulang,” ujar Athar saat presentasi di Kampus UI Depok, Kamis.
“Kami ingin memberikan pengalaman yang lebih kontekstual dan adaptif, sesuai dengan aktivitas harian seperti rapat atau acara formal,” tambahnya.
Perangkat ini terintegrasi dengan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan pengguna mengatur intensitas serta durasi aroma sesuai kebutuhan. Pendekatan ini tidak hanya memperpanjang daya tahan keharuman, tetapi juga mengubah paradigma parfum menjadi bagian dari ekosistem gaya hidup modern.
Kontribusi terhadap industri luxury fragrance
Inovasi yang diusung Tim Ounurscens dianggap sejalan dengan tren industri parfum luxury yang kian mengedepankan personalisasi dan teknologi. Solusi ini juga menunjukkan kemampuan mahasiswa UI dalam mengikuti perkembangan global, khususnya pada sektor parfum yang semakin berbasis kecerdasan buatan.
Tim tersebut menjadi salah satu finalis nasional dalam National Finals L’Oréal Brandstorm 2026, ajang inovasi internasional yang diikuti oleh peserta dari 63 negara. Kompetisi tahun ini mengusung tema “Craft the Future Luxury Fragrance” dan menawarkan platform bagi kreativitas di bidang parfum.
Pendekatan menggunakan pakaian sebagai media penyebaran aroma dinilai efektif, karena mampu menjaga keharuman lebih lama dibandingkan aplikasi langsung pada kulit. “Parfum tidak hanya produk, tetapi ekspresi gaya hidup yang bisa dipersonalisasi melalui teknologi,” jelas Athar.