New Policy: El Nino Super & Perang Iran Mengancam, “Kiamat” Pangan Mengintai

El Nino Super & Perang Iran Mengancam, “Kiamat” Pangan Mengintai

Kekhawatiran Global tentang Kenaikan Harga Pangan

Jakarta – Perkembangan iklim yang ekstrem, khususnya fenomena El Nino, diperkirakan akan semakin memburuk pada akhir 2026. Hal ini berpotensi mempercepat tekanan terhadap harga bahan pokok di tingkat internasional. Perang Iran, yang mengganggu jalur perdagangan penting, juga memperkuat kekhawatiran tentang kelangkaan pupuk dan dampaknya pada produksi pertanian.

Kemungkinan El Nino Super dalam Waktu Dekat

Para ahli memperkirakan tingkat kemungkinan terjadinya El Nino kuat meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Dengan durasi Oktober hingga Desember, peluang terbentuknya fenomena ini mencapai sekitar 33%. Model iklim Eropa menunjukkan risiko lebih besar untuk terbentuknya El Nino super, yang bisa menyebabkan kenaikan suhu laut hingga 2°C di atas rata-rata normal.

Peluang Bencana Cuaca yang Lebih Luas

El Nino super, seperti yang dijelaskan oleh pakar iklim, akan memicu kondisi cuaca yang lebih ekstrem. Bahan bakar fosil dan emisi karbon menjadi faktor tambahan yang memperparah ketidakstabilan iklim. Analis senior dari Energy and Climate Intelligence Unit, Chris Jaccarini, menekankan bahwa dua tekanan—suhu laut meningkat dan ketergantungan pada bahan bakar fosil—akan mengganggu sistem pangan dunia.

“Harga pangan tertekan dari dua arah: ekstrem cuaca yang menghambat produksi di area pertanian utama, serta sistem distribusi yang masih bergantung pada bahan bakar fosil,”

—kata Jaccarini, dilansir CNBC International, Rabu (9/4/2026).

Komoditas yang Rentan

Kondisi ini akan memengaruhi berbagai bahan makanan, termasuk kakao, minyak nabati, beras, dan gula. Selain itu, produk tropis seperti kopi, teh, pisang, cokelat, serta daging sapi berbasis kedelai juga menghadapi risiko pasokan yang tidak pasti. Hal ini terjadi seiring gangguan distribusi pupuk global akibat serangan militer di Selat Hormuz.

Pengaruh Konflik Iran pada Pasokan Global

Perang di Timur Tengah, terutama di Jalur Selat Hormuz, menghambat alur perdagangan pupuk. Sebagai jalur penting, sekitar 33% pasokan global melewati daerah tersebut. Serangan pada akhir Februari telah membuat distribusi pupuk tersendat, memperparah ketidakstabilan bahan baku pertanian.

Peringatan dari Lembaga Pangan Dunia

Laporan Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa lonjakan harga energi dan pupuk dapat meningkatkan jumlah penduduk yang mengalami kelaparan akut. Jika konflik Iran berlanjut dan harga minyak tetap di atas US$100 per barel, jumlah orang yang terdampak bisa mencapai 45 juta, menambah total 318 juta orang yang mengalami kerawanan pangan.

Risiko Global dari Faktor Cuaca dan Politik

Manajer portofolio Ninety One, Dawid Heyl, mengungkapkan bahwa kombinasi konflik geopolitik dan perubahan iklim berpotensi mengubah skenario pangan secara signifikan. “Jika dua faktor negatif ini bersatu, maka situasinya bisa sangat berat,”

“—tulis Heyl dalam catatan risetnya.

Wilayah Rentan Akibat El Nino

Negara seperti India, Australia, Brasil, dan Argentina diprediksi akan mengalami dampak besar karena kekeringan dan gangguan produksi. Sementara itu, Afrika, terutama Ethiopia, Sudan Selatan, dan Sudan, juga menghadapi ancaman kekeringan yang bisa menghancurkan musim tanam utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *