Israel Diamuk China-PBB – “Duri dalam Daging” Gencatan Senjata AS-Iran

Israel Diamuk China dan PBB, “Duri dalam Daging” Gencatan Senjata AS-Iran

Jakarta, Serangan Israel ke 100 lokasi di Lebanon pada Rabu, yang merenggut nyawa 254 orang, memicu reaksi dari berbagai negara. Meski gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berlangsung selama dua minggu, Israel menolak menyertakan Lebanon dalam perjanjian tersebut. Poin perdamaian Lebanon justru menjadi salah satu dari 10 syarat yang diajukan Iran sebagai bagian dari kesepakatan itu.

Respons dari Prancis dan Tiongkok

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, mengecam serangan Israel, menyebutnya “sangat tidak dapat diterima” dalam wawancara dengan radio France Inter, seperti dilaporkan AFP. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut mengancam gencatan senjata yang sebelumnya tercapai. “Serangan-serangan ini semakin tidak dapat diterima karena merusak gencatan senjata sementara yang dicapai kemarin antara AS dan Iran,” tegasnya.

“Kedaulatan dan keamanan Lebanon tidak boleh dilanggar. Keselamatan jiwa serta harta benda warga sipil harus dijamin,” kata Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, dalam konferensi pers rutin. “China mendesak pengendalian dan penenangan situasi regional,” tambahnya.

Pernyataan dari Sekretaris Jenderal PBB

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, melalui juru bicaranya, mengingatkan bahwa serangan Israel di Lebanon membawa “ancaman besar” bagi kesepakatan gencatan senjata dan upaya mencapai perdamaian yang stabil. “Aktivitas militer yang sedang berlangsung di Lebanon berpotensi menggagalkan gencatan senjata serta langkah menuju perdamaian komprehensif,” katanya.

“Tidak ada solusi militer untuk konflik ini. Saya terus menyerukan semua pihak untuk memanfaatkan jalur diplomatik,” tambah Guterres, menyoroti peningkatan korban sipil sebagai kekhawatiran utamanya.

Inggris Minta Lebanon Dijadikan Klausul Gencatan Senjata

Meskipun tidak langsung mengkritik tindakan Israel, Inggris menegaskan keinginan untuk menyertakan Lebanon dalam klausul gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, mengatakan bahwa negaranya “sangat” mendukung perluasannya. “Kami ingin melihat gencatan senjata diperluas ke Lebanon. Konsekuensi kemanusiaan dan pengungsian massal yang terjadi menunjukkan urgensi tindakan ini,” paparnya.

Kritik terhadap Kebijakan Israel

Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, mengutuk serangan Israel, menyebut skala pembunuhan dan kehancuran di Lebanon sebagai “benar-benar mengerikan.” Ia menilai tindakan tersebut “sulit dipercaya” karena terjadi hanya beberapa jam setelah Iran dan AS menyetujui gencatan senjata.

“Pembantaian seperti itu, hanya beberapa jam setelah menyetujui gencatan senjata dengan Iran, sungguh sulit dipercaya,” tegas Turk.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, tampaknya mengancam gencatan senjata itu, menunjukkan ketegangan yang semakin memuncak. Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, menganggap Lebanon sebagai sasaran balasan atas perang AS-Israel terhadap Iran, sehingga negara tersebut terlibat dalam konflik bersenjata kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *