Main Agenda: 5 Fakta Negosiasi Damai AS-Iran: Tuan Rumah Liburkan Kota-Lebanon

5 Fakta Negosiasi Damai AS-Iran: Tuan Rumah Liburkan Kota Lebanon

Pada akhir pekan ini, pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Iran akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi di Islamabad, Pakistan, untuk membahas syarat-syarat gencatan senjata. Tujuan utama dari pertemuan tersebut adalah mengakhiri konflik yang berlangsung di wilayah Timur Tengah. Gedung Putih menyatakan bahwa proses negosiasi sedang berjalan, meski kesepakatan akhir dianggap masih rentan karena perang terus berlangsung di berbagai titik.

Delegasi dan Persiapan Perundingan

Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, didampingi oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner. Rombongan ini dijadwalkan tiba di Islamabad pada hari Sabtu, 11 April 2026, untuk bertemu dengan perwakilan Iran di bawah mediasi Perdana Mentera Pakistan, Shehbaz Sharif. Vance menjadi fokus utama karena dikenal lebih condong pada kebijakan anti-perang dibandingkan anggota delegasi lainnya.

Iran sendiri akan diperwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Qalibaf, mantan komandan IRGC, dianggap mewakili kepentingan militer Iran dalam perundingan. Meski tim telah disiapkan, pejabat Pakistan menegaskan bahwa kehadiran peserta tetap bergantung pada situasi keamanan saat tiba di Islamabad. Hingga kini, belum dikonfirmasi apakah anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akan turut serta secara langsung.

Isu Lebanon: Konflik Berkepanjangan

Isu Lebanon menjadi sorotan dalam negosiasi karena adanya perbedaan pendapat tentang wilayah yang terlibat dalam gencatan senjata. Pakistan mendukung inklusi Lebanon, sementara AS dan Israel menolaknya. Vance menjelaskan kepada wartawan di Hongaria bahwa ini adalah kesalahpahaman dari pihak Iran, karena AS tidak pernah menyatakan Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan.

“Masalah Lebanon hanyalah kesalahpahaman yang sah dari pihak Iran,” kata Vance. “Mereka mengira gencatan senjata otomatis mencakup wilayah tersebut, padahal dokumen tidak menyebutkannya.”

Dania Thafer dari Gulf International Forum menyoroti bahwa absennya Israel dalam perundingan adalah tantangan struktural. Menurutnya, Israel sebagai pihak yang terlibat perang seharusnya turut serta untuk menghindari penolakan terhadap syarat-syarat yang disepakati.

Tarik Ulur dan Langkah Masing-Masing

Presiden Trump dikabarkan telah berkomunikasi langsung dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, meminta militer Israel menurunkan intensitas serangan. Dalam wawancara dengan NBC News, Trump menyebutnya sebagai upaya agar proses damai tidak terganggu. Netanyahu merespons dengan memerintahkan kabinet untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon, guna meredam ketegangan di perbatungan utara.

“Saya meminta Netanyahu bersikap ‘low-key’ agar tidak mengganggu perundingan,” ungkap Trump.

Kehadiran Lebanon dalam gencatan senjata juga memicu ancaman dari Teheran setelah serangan besar Israel ke Lebanon pada Rabu lalu. Dengan langkah ini, Israel berharap bisa memastikan keberhasilan negosiasi di Islamabad, sementara Iran merasa memiliki alasan untuk tetap berpartisipasi tanpa tekanan dari sekutunya.

Rencana Damai Iran dan Syarat-Syarat Utama

Pembicaraan akan fokus pada 10 poin rencana damai yang diajukan Iran, termasuk pencabutan sanksi, penarikan pasukan AS, dan pengakuan hak pengayaan uranium. Trump mengakui rencana ini sebagai dasar perundingan, tetapi tetap menekankan batasan tegas bagi Iran. Poin-poin tersebut juga menuntut pembebasan aset Iran yang dibekukan serta resolusi PBB yang menyatakan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *