Special Plan: Bursa Asia Mayoritas Menguat, Investor Pantau Ketat Gencatan Senjata

Bursa Asia Mayoritas Menguat, Investor Pantau Ketat Gencatan Senjata

Jakarta, Pasar saham Asia-Pasifik dibuka dengan kenaikan di sebagian besar indeks pada perdagangan Jumat (11/4/2026). Kenaikan ini terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang masih rentan antara Amerika Serikat dan Iran. Selama dua pekan terakhir, perang di Timur Tengah yang berlangsung lebih dari satu bulan memengaruhi keputusan investor, terutama karena penghalangan akses ke Selat Hormuz, jalur utama energi global.

Konflik ini tetap menjadi faktor yang menghiasi atmosfer pasar. Meski gencatan senjata resmi diumumkan, kondisi lalu lintas di Selat Hormuz masih terbatas. Iran menyatakan siap membuka kembali jalur tersebut jika semua serangan terhadap negaranya dihentikan, sementara Israel juga dianggap mendukung kesepakatan tersebut. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menghentikan serangan terhadap Iran pada Selasa lalu sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan. Namun, ia memperingatkan Iran agar tidak menetapkan tarif terhadap kapal tanker yang melewati selat tersebut.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. Tuduhan ini memperkuat ketidakpastian di pasar keuangan global.

Dari segi kinerja pasar, Kospi Korea Selatan naik 1,68%, sementara Kosdaq mengalami kenaikan 1,14%. Di Jepang, Nikkei 225 melonjak 1,65%, sedangkan Topix cenderung stabil. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengungkapkan rencana untuk melepaskan cadangan minyak selama 20 hari, dimulai di bulan Mei. Negara tersebut memiliki persediaan minyak mencukupi kebutuhan selama 230 hari per 6 April.

Sementara itu, pasar saham Australia mengalami penurunan, dengan S&P/ASX 200 melemah 0,51%. Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong mencapai 25.900, lebih tinggi dari penutupan sebelumnya di 25.752,40. Harga minyak dunia tetap mengalami kenaikan, di mana WTI naik 0,69% ke US$98,55 per barel, dan Brent crude melonjak 0,91% ke US$95,92 per barel setelah mencapai US$100 per barel pada sesi sebelumnya.

Pada perdagangan semalam di Wall Street, indeks saham AS ditutup menguat, meskipun harga minyak sempat turun dari level tertingginya. Kenaikan ini mencerminkan harapan investor akan penyelesaian konflik geopolitik. S&P 500 naik 0,62% ke 6.824,66, Nasdaq Composite menguat 0,83% ke 22.822,42, dan Dow Jones Industrial Average naik 275,88 poin atau 0,58% ke 48.185,80, kembali mencatatkan pertumbuhan positif di tahun ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *