New Policy: Ekonomi Berkah: Bukan cuan instan, tapi bisnis berkelanjutan
Ekonomi Berkah: Bukan cuan instan, tapi bisnis berkelanjutan
Setelah merayakan hari Lebaran setelah bulan Ramadan yang suci, masyarakat kembali ke aktivitas sehari-hari dengan harapan sederhana: tetap fitri dan melanjutkan praktik baik yang ditanamkan selama bulan suci. Namun, paradoks sering muncul ketika berhadapan dengan pragmatisme bisnis. Nilai-nilai kebaikan yang dijaga selama Ramadhan, seperti kejujuran dan kerja keras, sering kali hilang dalam rutinitas ekonomi.
Posisi Ekonomi Indonesia di Tingkat Global
Dari perspektif internasional, ekonomi Indonesia memiliki peran yang penting. Berdasarkan laporan IMF tahun 2025, negara ini menempati peringkat ke-16 dunia dalam PDB nominal dan ke-7 berdasarkan PDB PPP. Struktur ekonomi Indonesia terbentuk oleh kombinasi peran pemerintah melalui BUMN dan sektor swasta, termasuk UMKM. Kedua pihak bekerja sama dalam membangun pertumbuhan ekonomi.
Kesenjangan dan Dampaknya
Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bergantung pada konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh PDB. Di sisi lain, sektor informal menyerap tenaga kerja terbesar, meskipun sering diabaikan oleh kebijakan formal. Kesenjangan ini terlihat jelas dalam data OJK 2025, di mana inklusi keuangan nasional mencapai 79,71%, tetapi inklusi keuangan syariah hanya berkisar 13,41%. Jurang ini menciptakan peluang bagi praktik ekonomi yang berorientasi pragmatis.
Meski potensi ekonomi Indonesia besar, ketimpangan struktural menghambat pencapaian kesejahteraan masyarakat secara merata. Faktor ini membuat upaya individu atau kelompok dalam meningkatkan kesejahteraan terlihat lebih cenderung pragmatis. Padahal, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, tetapi sistem ekonomi yang berjalan belum sepenuhnya menerapkan nilai-nilai moral dan etika syariah dalam pengambilan keputusan.