Special Plan: Dolar Tembus Rp 17.100, APBN RI Masih Aman?

Dolar Tembus Rp 17.100, APBN RI Masih Aman?

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami penurunan pada sesi perdagangan pagi ini, Jumat (10/4/2026). Dikutip dari data Refinitiv, hingga pukul 09.47 WIB, mata uang Garuda mencapai Rp17.110 per dolar, dengan level terendah intraday mencapai Rp17.115 per US$. Pelemahan ini menjadi tren terbaru dalam pergerakan mata uang asing di pasar keuangan.

Analisis terkait Dampak pada APBN

Menurut Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, kondisi rupiah yang menyentuh Rp17.100 belum memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menilai, kenaikan defisit akibat pelemahan nilai tukar masih terbatas, sekitar Rp4,2 triliun.

“Jika hanya berdasarkan perubahan nilai tukar rupiah saja, kita hitung bahwa dampaknya masih kurang dari Rp5 triliun. Maka, ini bisa dianggap belum merugikan defisit APBN secara signifikan,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (10/4/2026).

Myrdal juga mengingatkan adanya risiko lebih luas jika pelemahan rupiah berlanjut. Kurs yang terus melemah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama bahan bakar minyak. Jika harga minyak global tetap tinggi, di atas US$70 per barel, tekanan fiskal bisa meningkat.

Sementara itu, faktor musiman menjadi penyebab utama pelemahan rupiah saat ini, menurut Myrdal. Permintaan dolar AS meningkat akibat pembayaran dividen dan utang luar negeri. Kondisi ini bisa memperburuk neraca perdagangan jika harga minyak tidak turun.

Perbedaan Pandangan dari Ibrahim Assuaibi

Analis mata uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, berpendapat bahwa posisi rupiah saat ini menunjukkan APBN Indonesia tidak lagi aman. Dalam APBN 2026, asumsi kurs dianggap Rp16.500 per US$, tetapi rupiah kini sudah menyentuh Rp17.100.

“Perlu ada revisi APBN untuk menyesuaikan asumsi kurs. Kemungkinan besar, rupiah bisa stabil di Rp17.000 hingga Rp17.500 per US$. Jika kurs terus turun, tingkat keseimbangan fiskal bisa terganggu,” ujar Ibrahim kepada CNBC Indonesia, Jumat (10/4/2026).

Ibrahim menambahkan, tekanan terhadap rupiah terutama dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia mengatakan, perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel yang ditandatangani di Pakistan hari ini berdampak signifikan. Jika kesepakatan ini berhasil, rupiah diperkirakan akan menguat.

Kedua analisis menyoroti perubahan kurs rupiah sebagai indikator kritis untuk kebijakan fiskal. Meski ada risiko, pemerintah dan sektor swasta masih memiliki strategi untuk mengurangi tekanan melalui lindung nilai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *