New Policy: Pemkab Banyumas sarankan UMKM gunakan alternatif pengganti plastik

Pemkab Banyumas Dorong UMKM Cari Alternatif Pengganti Plastik

Kelangkaan bahan baku plastik saat ini mendorong Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, untuk mengajukan saran kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mencari solusi kemasan alternatif. Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, menjelaskan bahwa para pedagang mulai mengeluhkan kenaikan harga plastik serta keterbatasan stok di pasaran.

“Keluhan dari pedagang memang sudah ada, mereka menyampaikan bahwa plastik sekarang mahal dan langka,” ujarnya.

Menurut Gatot, kondisi ini mendorong pelaku usaha tetap berproduksi dengan berinovasi. Namun, tidak semua produk mudah beralih dari plastik. Ia menegaskan bahwa yang masih memiliki stok plastik bisa terus beroperasi, sementara mereka yang sudah kehabisan menghadapi kesulitan mengemas barang.

“Yang masih punya stok ya masih jalan, tapi yang sudah tidak punya, itu yang sekarang kebingungan mencari alternatif,” katanya.

Kelangkaan plastik dianggap sebagai isu nasional karena ketergantungan pada impor. Gatot menyebut pemerintah pusat, melalui Kementerian Perdagangan, sedang mencari sumber bahan baku lain selain dari Timur Tengah. “Ini persoalan nasional, bahan baku plastik itu impor. Kita menunggu kebijakan dari pusat,” tambahnya.

Dalam kesempatan terpisah, Pujianto, Ketua Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Kabupaten Banyumas (Aspikmas), mengungkapkan bahwa harga plastik melonjak hingga 80 persen, berdampak langsung pada usaha. Kondisi ini memaksa pelaku usaha menghadapi dua pilihan sulit: menaikkan harga jual atau mengurangi margin keuntungan.

“Kalau mereka menaikkan harga jual ke end user, kalau market-nya sensitif bisa jadi mereka tergeser atau mengurangi potensi pembelian,” katanya.

Pujianto menjelaskan bahwa menaikkan harga berisiko menurunkan daya beli konsumen, sementara menurunkan margin bisa membuat keuntungan berkurang drastis—dari 30 persen menjadi 15-20 persen. “Semua harus dihitung dengan matang, jangan sampai salah mengkalkulasi harga pokok dan harga jual, akhirnya malah merugi,” tegasnya.

Menurutnya, sektor makanan masih membutuhkan plastik sebagai bahan kemasan utama. “Kalau makanan itu hampir tidak bisa digantikan, karena kemasan primernya memang membutuhkan plastik,” ujarnya. Ia berharap kenaikan harga plastik bersifat sementara agar pelaku usaha bisa mengatasi dengan penyesuaian margin tanpa harus menaikkan harga jual. Selain itu, Pujianto menginginkan kebijakan khusus dari pemerintah untuk mengurangi beban UMKM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *