Meeting Results: RI incar diversifikasi pasar lewat perjanjian dagang I-EAEU FTA

RI Incar Diversifikasi Pasar Lewat Perjanjian Dagang I-EAEU FTA

Pemerintah Indonesia berupaya mempercepat implementasi The Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) sebagai strategi untuk memperluas pasar ekspor. Tujuan ini semakin relevan mengingat meningkatnya pengaruh proteksionisme global serta gangguan pada perdagangan internasional. Upaya tersebut diungkapkan dalam Pertemuan ke-7 Working Group on Trade, Investment, and Industry (WGTII) antara RI dan Rusia.

Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian, Edi Prio Pambudi, menegaskan bahwa kerja sama dengan Federasi Rusia memiliki peluang besar yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. “Kami percaya bahwa kolaborasi perdagangan yang lebih dalam dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan saling menguntungkan,” ujarnya dalam pernyataan resmi di Jakarta, Jumat.

“Kami percaya bahwa kolaborasi perdagangan yang lebih dalam dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan saling menguntungkan,” kata Edi Prio Pambudi.

Kemitraan RI-Rusia yang telah berlangsung selama 76 tahun ini, kata Edi, bisa dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama di bidang yang lebih luas. Peningkatan komitmen di sektor prioritas seperti industri, investasi, dan ketahanan pangan serta ekonomi kreatif juga menjadi fokus utama.

Deputi Menteri Pembangunan Ekonomi Federasi Rusia, Vladimir Illichev, menggarisbawahi pentingnya mewujudkan hasil pertemuan sebelumnya, termasuk penandatanganan I-EAEU FTA. Ia menyebutkan beberapa proyek strategis yang telah berjalan, seperti kerja sama halal dan jalur logistik Surabaya-Vladivostok sejak 2023. “Kita perlu menciptakan langkah konkret sebelum pertemuan lanjutan di Kazan bulan Mei nanti,” tambahnya.

Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Belarus, Jose Tavares, menyatakan bahwa liberalisasi lebih dari 90 persen tarif melalui I-EAEU FTA menjadi langkah kunci. “Ini membantu meningkatkan akses pasar di tengah tumbuhnya tren proteksionisme global,” katanya. Nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Rusia mencapai hampir 5 miliar dolar AS pada 2025, namun masih ada ruang untuk peningkatan melalui diversifikasi, penguatan industri, dan identifikasi investasi potensial.

“Liberalisasi lebih dari 90 persen tarif melalui I-EAEU FTA menjadi langkah kunci di tengah tumbuhnya tren proteksionisme global,” ujar Jose Tavares.

Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergey Tolchenov, menekankan bahwa dimensi ekonomi menjadi pilar utama dalam memperkokoh hubungan bilateral. Ia menyoroti potensi kerja sama di berbagai sektor, mulai dari pertanian, teknologi informasi, pengembangan infrastruktur, hingga pertambangan dan industri pengolahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *