New Policy: Presiden Negara Komunis Ini Tak Goyah Ditekan AS, Rusia Turun Tangan
Presiden Negara Komunis Ini Tak Goyah Ditekan AS, Rusia Turun Tangan
Jakarta, 10 April 2026 – Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyatakan bahwa ia tidak akan mengundurkan diri meski terus mendapat tekanan dari Amerika Serikat (AS). Pernyataan ini diucapkan dalam wawancara televisi pertamanya dengan media AS, NBC News. Diaz-Canel menegaskan bahwa Kuba memiliki kemerdekaan dan kebijakan nasional yang mandiri, serta tidak akan tunduk pada rencana AS.
“Kita memiliki negara berdaulat yang bebas, negara yang merdeka. Kita memiliki penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan, serta tidak akan menyerah pada tuntutan Amerika Serikat,” ujarnya, seperti dilaporkan Jumat (10/4/2026).
Di sisi lain, tekanan Washington terhadap Havana semakin meningkat, termasuk melalui kebijakan yang membatasi pasokan energi. AS bahkan mengancam akan memberikan tarif kepada negara-negara yang mengekspor minyak ke Kuba. Kondisi ini memperparah krisis bahan bakar yang menghimpit Kuba sejak awal tahun, setelah pasokan utama dari Venezuela terganggu.
Saat ini, Kuba hanya mampu memenuhi sekitar 40% kebutuhan bahan bakarnya secara domestik. Di tengah tekanan tersebut, Rusia menunjukkan dukungan yang jelas. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menegaskan bahwa Moskow tidak akan meninggalkan sekutunya di wilayah tersebut.
“Kita tidak bisa mengkhianati Kuba. Itu tidak mungkin. Kita tidak akan meninggalkannya sendirian,” kata Ryabkov, dilansir dari kantor berita Rusia.
Ryabkov menambahkan, Rusia akan terus memberikan bantuan, baik melalui pengiriman minyak maupun metode lain untuk mengatasi dampak sanksi. Sebelumnya, kapal tanker Rusia yang membawa sekitar 730.000 barel minyak mentah tiba di Kuba akhir Maret, menjadi pengiriman pertama dalam tiga bulan terakhir.
Ketegangan antara AS dan Kuba juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyerang kritik terhadap pemerintah Havana, menyebutnya sebagai ancaman terhadap keamanan nasional. Meski demikian, Diaz-Canel menegaskan bahwa Kuba tetap terbuka untuk berdialog, selama prosesnya tidak dilakukan dengan syarat dan menghormati kedaulatan negara.