Topics Covered: Alasan China Rela “Susah Payah” Damaikan AS-Israel & Iran
Alasan China Rela “Susah Payah” Damaikan AS-Israel & Iran
Dari Jakarta, negara Tiongkok disebut melakukan langkah aktif untuk mendorong gencatan senjata dalam konflik Iran, di tengah peningkatan harapan terhadap peran diplomatik Beijing di panggung internasional. Aksi ini dianggap masih berdasarkan pertimbangan kepentingan ekonomi dalam negeri, terutama untuk menjaga kelancaran ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Sejumlah pejabat Iran menyatakan Beijing terlibat dalam upaya mengurangi ketegangan, sementara mantan presiden AS Donald Trump disebut AFP telah memberikan komentar terkait peran tersebut.
Upaya Aktif dan Fasilitasi
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, mengungkapkan Beijing melakukan ‘upaya aktif’ untuk meredakan konflik. Ia menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Wang Yi telah melakukan 26 panggilan telepon dengan perwakilan beberapa negara, termasuk Rusia, Arab Saudi, Jerman, dan Iran, sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Namun, Mao tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Beijing berperan dalam mediasi langsung.
“Yang dilakukan Beijing sebenarnya bukan tentang mediasi langsung. Lebih tepatnya, memfasilitasi gencatan senjata,” kata Zongyuan Zoe Liu, peneliti senior dari Council on Foreign Relations, seperti dilaporkan CNBC International.
Liu menambahkan bahwa kebijakan luar negeri Tiongkok tetap konsisten, dengan fokus utama pada dampak ekonomi global dari konflik tersebut. Sebagai negara berbasis ekspor, Tiongkok sangat rentan terhadap gangguan perdagangan internasional. Tahun lalu, ekspor bersih menyumbang sekitar sepertiga dari PDB negara tersebut.
Dampak Ekonomi dan Ketidakpastian Global
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi global tetap akan melambat meski gencatan senjata tercapai, terutama karena ketidakpastian di Selat Hormuz. Jalur ini mengatur sekitar 20% pasokan minyak global, dan bagi Tiongkok, tempat ini sangat kritis karena hampir setengah impor minyak laut melintas kawasan tersebut, meski hanya menyumbang 6,6% dari total konsumsi energi nasional.
“China menghadapi tekanan besar karena kenaikan biaya energi yang pesat, dan berharap Selat Hormuz segera dibuka kembali,” ujar Zhao Hai, direktur studi politik internasional Akademi Ilmu Sosial Tiongkok.
Data menunjukkan harga bensin di Tiongkok melonjak 11% pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya. Pemerintah juga telah menaikkan harga bensin domestik dua kali dalam enam minggu, dengan total kenaikan mencapai 1.580 yuan per metrik ton atau setara sekitar US$0,60 per galon. Kenaikan ini berdampak pada margin industri manufaktur dan memperburuk tekanan harga di sektor produksi.
Rekam Jejak Diplomatik dan Batasan Peran
Langkah Tiongkok ini juga dipengaruhi oleh rekam jejak dalam mediasi normalisasi hubungan Iran dan Arab Saudi beberapa tahun lalu. Keberhasilan itu meningkatkan citra Beijing di Timur Tengah. Namun, Zhao Hai menegaskan bahwa Tiongkok tidak memiliki kapasitas atau niat untuk menekan pihak-pihak konflik agar bernegosiasi. Dukungan Beijing justru berfungsi memperkuat upaya mediasi negara lain, seperti Pakistan.
Menurut Mao Ning, Tiongkok mendukung upaya mediasi oleh negara-negara termasuk Pakistan. Pada akhir Maret, kemitraan Tiongkok-Pakistan meluncurkan rencana bersama untuk memulihkan stabilitas di Timur Tengah, termasuk mendorong gencatan senjata dan normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz. Meski demikian, peran langsung Tiongkok dalam pertemuan tersebut masih belum jelas.
Sementara itu, serangan Iran terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi telah memangkas produksi negara tersebut, memperparah dampak ekonomi global. Liu menilai ketegangan struktural antara ketergantungan Tiongkok pada sistem global berbasis aturan dan upaya AS untuk mengubahnya tetap ada, meski peran Tiongkok dalam mediasi bersifat pendukung.