Selat Hormuz Gonjang-ganjing – Kenapa Harga Plastik Makin Mahal?
Selat Hormuz Gonjang-ganjing, Kenapa Harga Plastik Makin Mahal?
Harga plastik tercatat naik dalam beberapa minggu terakhir. Pedagang di berbagai pasar merasakan dampaknya, termasuk di wilayah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Pada Senin (6/4), CNNIndonesia.com mencatat kenaikan biaya untuk berbagai jenis plastik, mulai dari kantong hingga sedotan. Mustaroh, penjual es kelapa di kawasan tersebut, mengatakan hampir semua jenis plastik yang digunakan dalam usaha jualannya mengalami kenaikan harga. Ia menjelaskan, harga plastik kantong naik dari Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu, sementara sedotan meningkat dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu. Plastik kemasan merek tomat pun mengalami lonjakan drastis, dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu per pak.
Mengapa Harga Plastik Naik?
Kenaikan harga plastik terjadi karena tekanan pada bahan bakunya. Pasokan nafta, bahan baku utama, terganggu akibat perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama pengangkutan minyak global. Menurut penjelasan Chandra Asri, perusahaan petrokimia Indonesia, nafta merupakan cairan hidrokarbon menengah yang dihasilkan dari minyak mentah. [Gambas:Youtube]
“60 persen nafta masih diimpor dari Timur Tengah,” ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (1/4). Ia menjelaskan bahwa ketergantungan pada impor membuat Indonesia terdampak ketika terjadi gangguan distribusi atau produksi dari kawasan tersebut.
Langkah Pemerintah Mengatasi Kenaikan Harga
Untuk mengurangi dampak kenaikan harga, Budi menuturkan pemerintah sedang mencari sumber pasokan alternatif dari negara lain. “Ini membutuhkan waktu, karena tiba-tiba pasokan harus dipindahkan dari Timur Tengah ke sumber lain,” tambahnya. Senada, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Kementerian bersama industri sedang mengoptimalkan penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga dan mendorong plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi.
“Masyarakat dan industri tidak perlu panik, karena produk plastik tetap tersedia di pasar,” kata Agus dalam keterangan resmi, Rabu (8/4).
Kinerja Industri Kemasan Tetap Stabil
Berdasarkan data Indeks Kepercayaan Industri (IKI), industri kemasan di Indonesia masih dalam fase ekspansi tinggi pada Maret 2026. Hal ini menunjukkan aktivitas produksi berjalan normal dan stok produk plastik di dalam negeri dinilai mencukupi.