Topics Covered: Iran Pertimbangkan Bareng Oman Kelola Selat Hormuz, Sudah Susun Draf
Iran Pertimbangkan Bareng Oman Kelola Selat Hormuz, Sudah Susun Draf
Konflik di wilayah Timur Tengah terus memanas sejak Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Paling tidak, lebih dari tiga ribu orang meninggal, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sebagai respons, Teheran membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di negara-negara Teluk. Pada saat ini, Iran juga sedang membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.
Iran sedang mempertimbangkan kerja sama dengan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz. Draf protokol antara dua negara tersebut telah disusun, seperti yang dilaporkan oleh CNBC melalui IRNA. Wamenlu Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa lalu lintas kapal tanker melalui jalur minyak strategis itu “harus diawasi dan dikoordinasikan” oleh kedua pihak. Menurutnya, aturan ini tidak berupa pembatasan, melainkan untuk memastikan jalur yang aman serta pelayanan lebih baik bagi kapal-kapal yang melewati daerah itu.
“Tentu saja, persyaratan ini tidak berarti pembatasan, tetapi lebih untuk memfasilitasi dan memastikan jalur yang aman serta memberikan layanan yang lebih baik kepada kapal-kapal yang melewati jalur ini,” kata Gharibabadi.
Ketua Komisi Keamanan Nasional di Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengungkapkan bahwa proposal strategis tersebut dapat membuka peluang kerja sama dengan Oman, sekaligus memperluas pengendalian Iran di Selat Hormuz. Draf ini sedang dalam proses evaluasi oleh komisi parlemen sebelum dibawa ke rapat utama. Ia menjelaskan bahwa kerangka kerja hanya akan mengikat setelah mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat.
Dalam proposal, jika disetujui, Selat Hormuz akan dikelola secara “komprehensif dan penuh” oleh angkatan bersenjata serta lembaga keamanan Iran. Azizi menyatakan situasi di selat tersebut “tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang,” menunjukkan perubahan permanen dalam pengelolaan jalur laut ini.
Pembatasan Kapal Israel
Proposal juga mencakup ketentuan yang melarang kapal-kapal terkait dengan negara-negara yang dianggap bermusuhan terhadap Iran, khususnya Israel. Azizi menambahkan bahwa kapal Israel, baik militer maupun sipil, serta kapal yang berlayar ke atau dari Israel, akan dilarang melewati Teluk Persia dan Selat Hormuz. Hal ini berlaku untuk kapal yang kepemilikan, bendera, atau muatannya terkait dengan negara-negara tersebut, serta kapal militer atau yang terlibat dalam kegiatan intelijen yang membahayakan keamanan nasional Iran.
Penentuan ancaman tersebut akan dilakukan oleh militer Iran. Selain itu, proposal ini juga mengatur bahwa biaya lintas Selat Hormuz akan dibayarkan dalam mata uang lokal Iran, Rial. Sebelumnya, pembayaran menggunakan Yuan, mata uang Tiongkok.
Selama dua minggu lalu, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata, dengan mediasi oleh Pakistan. Namun, persyaratan pengendalian Selat Hormuz yang diajukan Iran belum diakui oleh pihak AS.