Meeting Results: Menhub Ungkap Dampak Penutupan Ruang Udara China Selama 40 Hari
Menhub Ungkap Dampak Penutupan Ruang Udara China Selama 40 Hari
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memberikan tanggapan terhadap kebijakan China yang menutup sebagian wilayah udara selama 40 hari. Menurutnya, keputusan negara tersebut dianggap sebagai langkah yang wajar dan harus dihormati. “Kondisi setiap negara berbeda, jadi kita tidak bisa memaksakan kebijakan dari luar,” jelas Dudy dalam konferensi pers di Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (9/4). Ia menekankan bahwa Indonesia menghargai keputusan negara lain, meskipun ada dampak yang mungkin terjadi.
“Kita menjaga mobilitas warga dalam negeri agar tetap lancar, karena perlu antisipasi jika ada penurunan pengunjung dari luar,” ucap Dudy.
Penutupan ruang udara tersebut diharapkan memengaruhi sektor penerbangan dan pariwisata, terutama mengurangi jumlah turis asal Tiongkok yang datang ke Indonesia. Dudy menyebut pemerintah berupaya mengendalikan kenaikan harga avtur yang sedang meningkat, sehingga tiket pesawat domestik tidak terlalu mahal. Ia menambahkan bahwa selama krisis atau pandemi, pasar dalam negeri menjadi penopang utama sektor pariwisata.
Dalam pemberitahuan terbaru, Tiongkok menutup wilayah udara untuk sebagian area, termasuk daerah lepas pantai utara dan selatan Shanghai, selama 40 hari. Batas waktu penutupan dimulai 27 Maret hingga 6 Mei. Wilayah yang terkena berada di antara Laut Kuning dan Laut China Timur. Kebijakan ini dikeluarkan secara mendadak tanpa penjelasan detail, menimbulkan kebingungan.
Menurut laporan Wall Street Journal, pengumuman tersebut terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Situasi serupa pernah terjadi ketika Beijing melakukan latihan militer, yang biasanya berlangsung singkat. Namun, kali ini tidak disebutkan agenda militer, sehingga misteri semakin menggelitik. Penerbangan sipil di wilayah tersebut tampaknya tidak terganggu, tetapi koordinasi tetap diperlukan untuk menghindari hambatan.
Wilayah yang ditutup tidak memiliki batas ketinggian vertikal, memungkinkan pesawat melintas tanpa hambatan. Hal ini menjadi perhatian karena Beijing sebelumnya sering menutup ruang udara untuk latihan militer. Namun, kali ini kebijakan dilakukan secara tiba-tiba, membuat banyak pertanyaan. Sebelumnya, Taiwan rutin melaporkan aktivitas militer Tiongkok di sekitarnya, termasuk latihan besar-besaran akhir tahun lalu.
Taipei mengecam kegiatan tersebut karena dianggap sebagai tekanan terhadap pemerintahan lokalnya. Meskipun wilayah udara yang ditutup terletak ratusan mil jauhnya dari Taiwan, kebijakan ini tetap menimbulkan efek domino. Tiongkok menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Taipei menuntut kemerdekaan. Dudy menyoroti bahwa Indonesia tetap fokus pada stabilitas sektor transportasi dalam negeri.