Special Plan: Paling Loyo di Asia, Rupiah Sentuh Level Terburuk Sejak 1998

Paling Loyo di Asia, Rupiah Menyentuh Titik Terendah Sejak 1998

Jakarta – Pekan ini berdampak negatif pada nilai tukar Rupiah, dengan mata uang tersebut mencatatkan penurunan terbesar sejak krisis 1998. Data dari Refinitiv menunjukkan, pada Jumat (10/4/2026), Rupiah ditutup di Rp17.085/US$, level yang menjadi yang terendah sejak peristiwa tahun 1998. Bahkan pada hari Selasa (7/4/2026), Rupiah terpuruk lebih dalam daripada periode krisis tersebut.

Sepanjang pekan ini, Rupiah mengalami penurunan 0,56% secara point-to-point. Di Asia, Rupiah menjadi mata uang yang terlemah bersama Rupee India dan Dong Vietnam. Sebaliknya, Baht Thailand menjadi yang terkuat dengan kenaikan 2,11%, sementara Won Korea Selatan juga mengalami penguatan 1,71%.

Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Pelemahan Rupiah terjadi karena penggabungan faktor eksternal dan internal. Eksternal, pasar tetap menghadapi ketidakpastian global meski DXY mengalami penurunan tipis 0,12% ke 98,69. Dalam seminggu terakhir, dolar AS juga terkoreksi 0,53%. Dari sisi domestik, laporan terbaru Bank Dunia menjadi perhatian, dengan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 menjadi 4,7%, lebih rendah dari estimasi sebelumnya 4,8% dan di bawah target APBN 2026 sebesar 5,4%.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat menjadi 4,7% karena tekanan dari harga minyak yang lebih tinggi dan sentimen penghindaran risiko hanya akan diimbangi sebagian oleh penerimaan komoditas dan inisiatif investasi pemerintah,”

dilansir dari laporan East Asia & Pacific Economic Update April 2026. Laporan ini menyebutkan bahwa tekanan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah menjadi penghalang utama. Meski ada upaya pemerintah meningkatkan penerimaan komoditas dan investasi, dampaknya masih terbatas.

Intervensi Bank Indonesia

Bank Dunia juga menyoroti tantangan terhadap Rupiah, di mana kekhawatiran pasar terhadap kebijakan fiskal dan arus modal keluar meningkat setelah MSCI memutuskan untuk membekukan sekuritas Indonesia dari indeksnya. Situasi ini memicu Bank Indonesia melakukan intervensi guna mempertahankan stabilitas nilai tukar.

Kondisi Rupiah di level Rp17.000/US$ tidak hanya menjadi angka psikologis, tetapi juga mengingatkan akan fase paling sulit dalam sejarah ekonomi Indonesia. Meski kondisi saat ini berbeda dengan 1998, pelemahan Rupiah tetap perlu diwaspadai. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa tekanan pada nilai tukar bisa berdampak luas, mulai dari inflasi, beban impor, biaya utang, hingga kepercayaan pelaku pasar terhadap kebijakan ekonomi nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *