Key Strategy: Dubes Pakistan: D-8 berpeluang bertransformasi di bawah RI
Dubes Pakistan: D-8 Memiliki Peluang untuk Berkembang di Bawah RI
Jakarta – Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, mengungkapkan bahwa organisasi D-8 bisa mengalami perubahan positif selama masa kepemimpinan Indonesia dari tahun 2026 hingga 2027. Dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta pada hari Sabtu (11/4), Chaudhri menyatakan bahwa Indonesia memiliki kapasitas ekonomi yang besar serta kredibilitas diplomatik yang tinggi, di samping memiliki visi untuk meningkatkan peran organisasi tersebut. “Kami yakin D-8 akan semakin kuat di bawah kepemimpinan Indonesia,” ujarnya.
Indonesia menawarkan potensi skala ekonomi yang besar dan kredibilitas diplomatik yang tinggi, di samping memiliki visi untuk meningkatkan peran organisasi tersebut. Kami yakin D-8 akan semakin kuat di bawah kepemimpinan Indonesia,”
Pembangunan menjadi faktor kunci bagi seluruh anggota Developing Eight (D-8). Menurut Chaudhri, organisasi ini berperan dalam memperkuat kerja sama ekonomi dan perdagangan antaranggota. “Kita perlu meningkatkan perdagangan intra-D-8,” tambahnya.
D-8 menyatukan 8 negara, termasuk Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Azerbaijan menjadi anggota terbaru yang bergabung pada Desember 2024. Perekonomian gabungan D-8 mencapai sekitar 5 triliun dolar AS (Rp85.446,5 triliun), tetapi perdagangan antaranggota masih tergolong rendah, yakni sekitar 156 miliar dolar AS.
Chaudhri menyarankan D-8 harus menetapkan target perdagangan yang jelas serta merancang strategi aksi untuk mendorong integrasi ekonomi. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi di bidang ekonomi biru, transisi hijau, dan energi terbarukan. “Ekonomi anggota D-8 tidak hanya perlu tumbuh, tetapi juga semakin terhubung secara ekonomi,” katanya.
Duta Besar itu menambahkan bahwa penggunaan investasi secara strategis sangat vital untuk meningkatkan efektivitas modal. Indonesia memegang keketuaan D-8 periode 2026–2027 dengan tema “Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama.”
Sejak April 1950, Indonesia dan Pakistan telah menjalin hubungan diplomatik. Kedua negara juga merupakan pendiri Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955 bersama India, Sri Lanka, dan Myanmar.