Main Agenda: HNW serukan umat Islam bersatu selamatkan Al Aqsha dari Israel
HNW Serukan Umat Islam Bersatu Selamatkan Al Aqsha dari Israel
Jakarta – M Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI, meminta umat Islam bersatu untuk memperkuat front bersama dalam menjaga keberlanjutan Masjid Al Aqsha sebagai warisan budaya umat Islam yang diakui UNESCO. Ia mengecam tindakan Israel yang dianggap berkelanjutan, termasuk perilaku mereka yang bersifat standar ganda, menghalangi umat Islam beribadah di sana saat bulan Ramadhan hingga pertengahan Syawal.
“Kebijakan double standard Israel ini harus ditolak secara tegas, memicu umat Islam untuk solidaritas setelah menyampaikan kutukan. Setiap pihak, baik individu maupuan institusi, wajib bertindak dengan tanggung jawab dan kemampuan mereka sendiri untuk melindungi Masjid Al Aqsha,” kata HNW dalam pernyataannya di Jakarta, Sabtu.
Dalam pernyataannya, HNW menyoroti cara Israel memungkinkan umat Yahudi beribadah di area kompleks Al Aqsha, sementara menghalangi umat Islam. Ia menyebut ini sebagai bentuk kejahatan yang mengancam keberadaan masjid tersebut. “Kalau dibiarkan, kebijakan ini akan menghancurkan Al Aqsha dan menggantinya dengan kuil Sulaiman,” tegasnya.
HNW menyoroti tindakan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, yang secara terbuka memimpin serangan ke kompleks masjid. Meski membuka akses bagi umat Yahudi untuk beribadah di Tembok Barat, Israel justru membatasi akses umat Islam. “Ini menunjukkan Israel mengambil kendali penuh atas izin pengelolaan masjid, menggantikan peran Kementerian Wakaf dan Islam Jordania,” ujarnya.
Sejumlah aksi provokasi oleh kelompok Yahudi radikal di sekitar Al Aqsha terus terjadi, didukung oleh kekuatan militer Israel. Bahkan setelah sholat Subuh, polisi Israel melakukan penindasan terhadap jamaah yang masih berada di dalam masjid. “Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa Al Aqsha sedang mengalami situasi paling parah sejak penjajahan Israel,” katanya.
HNW menegaskan bahwa tindakan Israel telah melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional. Selain membatasi umat Islam melakukan shalat wajib, tarawih, Jumat, i’tikaf, serta shalat Idul Fitri, Israel juga menghalangi umat Kristiani beribadah di Kota Tua Yerusalem. “Ini menunjukkan sikap diskriminatif terhadap umat Islam dan Kristen, sementara Israel tetap melindungi umat Yahudi,” tambahnya.
Ia berharap Kementerian Wakaf dan Islam Yordania, yang berwenang mengelola masjid, serta OKI bisa mengambil langkah lebih konkret. Tidak hanya sekadar mengeluarkan pernyataan kecaman, tetapi juga bertindak nyata untuk menyelamatkan Al Aqsha. “Para pemimpin negara Arab-Islam dan OKI perlu lebih serius menangani isu ini,” pungkas HNW.