Topics Covered: Erdogan Sebut Hukuman Mati Israel ke Tahanan Palestina Mirip Hitler
Erdogan Serahkan Hukuman Mati Israel terhadap Tahanan Palestina sebagai Kesamaan dengan Hitlers
Pada Jumat (10/4), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan kritik terhadap kebijakan parlemen Israel yang menerapkan hukuman mati bagi tahanan Palestina. Menurutnya, tindakan ini menunjukkan bentuk diskriminasi rasial yang mirip dengan kebijakan Adolf Hitler terhadap orang Yahudi.
“Pendekatan ini dianggap sebagai bentuk diskriminasi dan rasisme. Ini adalah implementasi dari sistem apartheid yang lebih ekstrem, seperti yang dikenal di Afrika Selatan pada 1994,” ujar Erdogan.
Dalam pidatonya di pertemuan sayap perempuan International Conference of Asian Political Parties (ICAPP), Erdogan juga menyebut kebijakan Israel ini merupakan contoh penindasan yang menyasar rakyat Palestina. “Apakah ada perbedaan esensial antara kebijakan mengerikan Hitler terhadap Yahudi dan keputusan parlemen Israel yang diumumkan secara percaya diri?” tanyanya.
Erdogan menegaskan bahwa hukuman mati yang hanya diberlakukan terhadap warga Palestina adalah bentuk penggunaan hukum sebagai alat fasisme rasis. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini mencerminkan kebijakan penyangkalan dan eksekusi politik terhadap penduduk Palestina.
Dampak pada Perempuan dan Anak-anak di Wilayah Konflik
Di sela pidatonya, Erdogan menyebut konflik di Timur Tengah terus menghancurkan masyarakat. Ia menekankan bahwa perempuan dan anak-anak paling terkena dampak dari kekerasan yang terjadi. “Satu konflik berkepanjangan sering kali dimulai sebelum yang lain selesai. Sayangnya, kelompok rentan ini yang menjadi korban utama,” ujarnya.
Erdogan menyebut bahwa di Gaza, lebih dari 72.000 warga sipil tewas akibat serangan Israel, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Di Iran, serangan udara ke sekolah di Minab menewaskan lebih dari 165 anak. Sementara di Lebanon, sekitar 1,2 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak 2 Maret. Dalam perang tersebut, lebih dari 1.500 warga Lebanon gugur, sementara 4.700 lainnya cedera.
Ia juga menyatakan bahwa meski gencatan senjata telah diumumkan, Israel tetap melanjutkan serangan dan kebijakan pendudukannya. “Pada hari gencatan senjata diberlakukan, Israel secara brutal membunuh 254 warga Lebanon. Jaringan genosida ini, yang buta akan darah dan kebencian, terus menargetkan anak-anak dan perempuan yang tak bersalah,” tambah Erdogan.
Kritik Turki terhadap Langkah Israel
Pernyataan Erdogan menjadi bagian dari kritik tajam Turki terhadap tindakan Israel di wilayah konflik, terutama dalam perang di Gaza dan kebijakan terhadap rakyat Palestina. Ia menyoroti bagaimana hukuman mati dan kekerasan di berbagai wilayah mencerminkan kesamaan antara Israel dan perbuatan Hitlers.