Meeting Results: Gencatan Senjata AS-Israel dan Iran Terancam Gagal, Dunia Panik
Gencatan Senjata AS-Israel dan Iran Terancam Gagal, Dunia Panik
Para pemimpin dunia saat ini berlomba mempercepat upaya untuk menyelamatkan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, yang kini berada di ambang kegagalan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Serangan Israel terhadap Lebanon, yang terus berlangsung, telah memicu kekhawatiran serius akan kembalinya konflik skala besar. Ketegangan ini mengancam kesepakatan gencatan senjata yang baru saja diumumkan, dengan risiko langsung terhadap stabilitas geopolitik dan ekonomi global.
Pembicaraan Di Pakistan
Ketika pesawat Air Force Two membawa Wakil Presiden AS JD Vance menuju Pakistan untuk berunding dengan pejabat Iran, atmosfer gencatan senjata yang dimediasi Trump terlihat semakin rapuh. Menurut laporan The New York Times, kesepakatan tersebut kini dihantam oleh kecurigaan Iran bahwa serangan Israel ke Lebanon melanggar komitmen penghentian serangan terhadap Iran dan sekutunya, yang sebelumnya dijanjikan sebagai imbalan untuk kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Iran sempat mempertimbangkan membatalkan pertemuan dengan Vance yang direncanakan Sabtu waktu setempat. Namun, kedatangan delegasi Iran ke Islamabad pada Jumat memberi tanda bahwa pembicaraan masih terbuka, meski situasinya penuh ketidakpastian. Pertemuan akan berlangsung di Hotel Serena, yang dijadikan pemerintah Pakistan untuk acara penting.
Kekhawatiran Ekonomi Global
Kontroversi ini bukan hanya soal politik, tetapi juga potensi gangguan terhadap pertumbuhan ekonomi global. Presiden Bank Dunia Ajay Banga mengingatkan bahwa jika perang kembali pecah dan Iran menghambat jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, ekonomi dunia bisa terganggu. Dalam skenario terburuk, inflasi akan naik signifikan, sementara pertumbuhan melambat.
“Lebanon telah mengubah konteks pembicaraan.”
Kata Vali R. Nasr, profesor dari Johns Hopkins, menunjukkan bagaimana konflik di Lebanon memperdalam ketidakpercayaan antara AS dan Iran. Dalam lima minggu terakhir, pertarungan antara Israel dan Hezbollah, yang didukung Iran, memperkuat kecurigaan Iran terhadap Trump. Hal ini terlebih setelah Trump meninggalkan Kesepakatan Nuklir 2015 dan melakukan serangan militer mendadak terhadap Iran.
Upaya Diplomasi Internasional
Beberapa negara aktif menjaga jalur diplomasi tetap terbuka. Presiden Prancis Emmanuel Macron menekan Israel untuk menghentikan operasi militer di Lebanon, sementara Perdana Menteri Inggris berdiskusi tentang pembukaan kembali jalur pelayaran di Teluk. Arab Saudi juga meminta China tetap menekan Iran agar terlibat dalam proses perundingan.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut pertemuan antara AS dan Iran sebagai momen “penentu hidup atau mati”. Ia menyatakan telah menerima komunikasi dari Qatar, Jerman, Australia, dan Inggris, yang menunjukkan perhatian global terhadap isu ini. Meski demikian, para analis mengakui bahwa konflik Lebanon memperburuk suasana perundingan.
Kemungkinan Kesepakatan
Delegasi AS, yang dipimpin Vance, akan didampingi Steve Witkoff dan Jared Kushner. Mereka bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Namun, belum jelas apakah pertemuan akan dilakukan secara langsung atau melalui perantara Pakistan. Para diplomat mengingatkan bahwa pertemuan langsung lebih efektif, meski bisa menimbulkan risiko politik.
“Jika Anda sudah berpikir bahwa orang ini, Tuan Trump, mungkin akan menipu Anda, itu pertanda buruk.”
Kata Nasr, kecurigaan Iran terhadap Trump menjadi penghalang utama. Dia menyebut bahwa perbedaan tajam terkait program nuklir Iran, keamanan Selat Hormuz, dan isu strategis lainnya semakin sulit dijembatani tanpa perpanjangan batas waktu dua minggu gencatan senjata. Ryan Hass dari Brookings Institution menambahkan bahwa eskalasi konflik akan bertentangan dengan upaya mengakhiri perang.