Key Issue: Gunung Semeru alami 16 kali gempa letusan selama enam jam terakhir
Gunung Semeru Alami 16 Gempa Erupsi dalam 6 Jam Terakhir
Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) – Pada Rabu pagi, Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, mencatatkan sebanyak 16 kali gempa erupsi dalam rentang waktu enam jam terakhir, yaitu dari pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
“Sebanyak 16 kali gempa erupsi dengan amplitudo 10-22 mm dan durasi 92-164 detik,” ungkap Mukdas Sofian, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Dalam periode yang sama, tercatat satu gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 25 mm dan durasi 13 detik, serta satu gempa vulkanik dalam yang memiliki amplitudo 20 mm, S-P 5 detik, dan durasi 23 detik. Selain itu, Gunung Semeru juga mengalami satu gempa tektonik jauh dengan amplitudo 38 mm, S-P 15 detik, dan durasi 57 detik.
Dari segi pengamatan visual, Gunung Semeru terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati, sementara cuaca berubah dari cerah menjadi berawan. Angin lemah berhembus ke arah barat laut.
“Gunung Semeru mengalami erupsi pada Rabu pukul 05.00 WIB, dengan tinggi kolom letusan sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut,” jelas Mukdas.
Kolom abu yang teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas tebal menuju arah barat daya. Aktivitas tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 164 detik.
Status Aktivitas Vulkanik Level III
Mukdas menyebutkan bahwa saat ini Gunung Semeru berada dalam status aktivitas vulkanik Level III (Siaga). Dengan kondisi ini, masyarakat dianjurkan tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan, yang berjarak 13 km dari puncak.
Berdasarkan evaluasi, area di luar jarak tersebut tetap berpotensi berbahaya. Masyarakat dilarang bergerak dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena risiko lontaran batu (pijar) tinggi. Di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, warga harus mewaspadai ancaman awan panas, guguran lava, serta aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.