Solving Problems: Perjalanan Panjang Prabowo dengan IPSI hingga Silat Mendunia
Perjalanan Berpuluh Tahun Prabowo dengan IPSI hingga Silat Dunia
Prabowo Subianto, presiden saat ini, berbagi cerita tentang perjalanan berpuluh tahunnya memimpin Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), yang telah ia jalani selama lebih dari tiga dekade. Menurutnya, komitmen ini merupakan bagian dari upaya mengangkat pencak silat sebagai simbol kebudayaan yang diakui secara internasional.
Munas IPSI ke-XVI
Prabowo hadir dalam Munas ke-XVI IPSI di JCC, Senayan, Jakarta, pada 11 Maret 2026. Dalam acara tersebut, ia menyampaikan refleksi nostalgia mengenai 34 tahun memimpin organisasi pencak silat ini.
“Dalam kesempatan tersebut, Prabowo berbagi kenangan nostalgia, karena kakek saya juga salah satu penggemar dan pendiri perguruan pencak silat di Madiun, Setia Hati, sejak era sebelum kemerdekaan,” ujarnya.
Dari keluarga, Prabowo merasakan pengaruh yang mendalam terhadap kecintaannya pada silat. Ia menjelaskan, sang kakek aktif berlatih hingga usia lanjut, termasuk teknik pernapasan. Selain itu, orang tuanya pernah menjabat pembina di IPSI selama periode yang cukup lama.
“Beliau tetap berlatih sampai usia tua, termasuk teknik pernapasan. Orang tua saya juga pernah menjadi pembina pengurus besar IPSI. Bagi saya, pencak silat adalah bagian dari panggilan sebagai anak bangsa,” sambungnya.
Dalam masa pendidikan militer di Akademi Militer, Prabowo mengungkap bahwa bela diri menjadi materi wajib. Materi seperti judo, tinju, dan pencak silat diajarkan secara rutin. Anggar pun masuk dalam kurikulum.
“Saudara-saudara sekalian, saat saya masuk tentara di Akademi Militer, kita diwajibkan belajar berbagai bela diri. Termasuk judo, tinju, dan pencak silat. Anggar pun menjadi bagian dari pelatihan,” katanya.
Prabowo juga menceritakan pengalaman selama bertugas di satuan elite TNI, di mana silat tetap diintegrasikan ke dalam pelatihan. Ia menyebut, prajurit diwajibkan mempelajari aliran Merpati Putih yang dibina oleh tokoh militer.
“Saat saya pertama kali bertugas di Pasukan Khusus, kita diwajibkan belajar pencak silat karena di masa lalu salah satu pembina Angkatan Darat, Jenderal Moeng Parhadimulyo, bekas Komandan RPKAD, juga mengembangkan Merpati Putih,” ucapnya.
Pencak Silat dan Penjajah
Prabowo mengingat masa silat pernah dibatasi oleh para penjajah. Latihan bela diri diwajibkan dilakukan secara diam-diam, terutama di area terpencil. Para guru silat harus berlatih secara sembunyi-sembunyi di bukit atau gunung.
“Pencak silat dilarang di masa penjajah, akhirnya latihan dilakukan malam-malam di bukit-bukit, gunung-gunung, atau suro-suro. Alhasil, ilmu yang dipelajari sering kali tidak terlihat oleh publik,” tutur Prabowo.
Menurutnya, karena larangan itu, pencak silat sempat dianggap sebagai olahraga kampung. Namun, sekarang kondisinya berubah. Ia menegaskan, silat kini menjadi representasi budaya nasional yang menarik perhatian dunia.
“Kita tidak perlu obsesi berlebihan, cukup menjaga kemurnian ilmu. Jika mutu ilmunya baik, negara-negara lain akan tertarik belajar dari kita,” ujarnya.
Dalam pembahasan terkini, Prabowo memberi contoh bagaimana negara seperti Vietnam dan Thailand, yang dulu belajar dari Indonesia, kini bisa mengungguli dalam kompetisi. Ia mengakui hal itu sebagai bagian dari progres pencak silat.