New Policy: Apa Arti Gencatan Senjata bagi Iran dan Apa yang Terjadi Setelahnya?
Gencatan Senjata dan Perubahan Strategi Iran
Deklarasi gencatan senjata dua minggu membuka peluang bagi perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Sabtu (11/04). Meski ini dianggap sebagai langkah diplomatik, kelompok garis keras Iran mengecam keputusan tersebut sebagai tanda kelemahan.
Perlawanan dari Kelompok Pemimpin Baru
Berhari-hari sebelumnya, kelompok garis keras Republik Islam Iran menempel spanduk besar di persimpangan utama Teheran, menyatakan:
“Selat Hormuz akan tetap ditutup.”
Spanduk ini mencerminkan keberatan Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, yang baru saja tampil di depan publik bulan lalu.
Spanduk itu kini mungkin akan diangkat setelah Iran menyetujui gencatan senjata dan perundingan damai dengan Pakistan. Sebelumnya, Iran menolak kesepakatan tersebut, menyatakan tidak akan memutus perang sebelum persenjataan lawan diisi kembali.
Peran China dalam Mediasi
Kebijakan gencatan senjata diambil oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC), lembaga keputusan utama Iran di bawah Mojtaba Khamenei. SNSC menggambarkan kesepakatan sebagai kemenangan, sementara China disebut berperan krusial dalam membujuk Iran agar menerima mediasi dari Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.
Kerusakan dan Kekhawatiran Internal
Dalam perang 40 hari, Iran mengalami kerusakan besar. Aktivis hak asasi manusia melaporkan lebih dari 3.000 korban jiwa, termasuk ancaman dari Presiden AS Donald Trump yang menyebut jumlah kematian bisa bertambah. Di antara kelompok garis keras, mulai muncul kesadaran bahwa langkah cepat diperlukan sebelum infrastruktur vital Iran runtuh.
Hanya beberapa jam sebelum pengumuman gencatan senjata, Ketua Mahkamah Agung Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, mengatakan kepada TV pemerintah: “Negara ini sedang mencari jalan untuk berdamai sambil tetap menjaga dominasi.” Pernyataan itu sejalan dengan pendapat Mohammad Javad Zarif, mantan menteri luar negeri moderat, yang pernah menulis artikel di Foreign Affairs.
Negosiasi dengan AS dan Perubahan Politik
Kelompok garis keras Iran juga menyayangkan langkah negosiasi langsung dengan AS. Sebelumnya, mantan pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, melarang kontak dengan Washington. Namun, putra Khamenei yang kini memimpin Iran menyetujui strategi ini.
Langkah tersebut menandai pergeseran dari kebijakan keras ke arah dialog. Meski gencatan senjata diberlakukan, Iran dan AS belum mencapai perdamaian. Kekacauan bisa kembali terjadi jika perundingan di Islamabad berakhir tanpa hasil.
Menurut laporan, Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen, akan memimpin delegasi Iran dalam perundingan dengan AS. Ia akan berdiskusi langsung dengan Wakil Presiden JD Vance, yang merupakan bagian dari strategi baru Iran.