News

Official Announcement: Brutal! Serangan Israel Rusak Gereja dan Sekolah Kristen di Lebanon

Brutal! Serangan Israel Rusak Gereja dan Sekolah Kristen di Lebanon Official Announcement - Di tengah konflik yang terus berlanjut antara Israel dan Lebanon

Desk News
Published Mei 30, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Brutal! Serangan Israel Rusak Gereja dan Sekolah Kristen di Lebanon

Official Announcement – Di tengah konflik yang terus berlanjut antara Israel dan Lebanon, serangan ganas oleh pasukan Zionis pada Jumat 29 Mei 2026 menargetkan dua bangunan penting milik komunitas Kristen di Nabatieh, Lebanon. Gereja Ortodoks Yunani Santo George di Jdeidet Marjeyoun serta Sekolah Kristen Suster-Hati Kudus menjadi korban serangan tersebut, menimbulkan kerusakan parah di sekitar area. Kejadian ini memicu kecaman internasional karena dilakukan meski gencatan senjata yang dijanjikan Presiden AS Donald Trump telah berlangsung selama 45 hari.

Konteks Gencatan Senjata

Gencatan senjata yang diumumkan Trump pada 17 April 2026 seharusnya menjadi titik balik dalam konflik tersebut. Namun, pasukan Israel terus menunjukkan sikap keras, mengabaikan kesepakatan tersebut. Menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), rudal yang diluncurkan menghancurkan bangunan gereja dan menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur sekitarnya. Serangan tersebut juga mengenai sekolah yang digunakan oleh komunitas Kristen, merusak sebagian besar ruang belajar dan tempat tinggal siswa.

“Rudal Israel menerjang secara tak terduga, mengakibatkan kerusakan besar di Gereja Santo George dan Sekolah Suster-Hati Kudus,” tulis NNA dalam laporannya. “Kerusakan tidak hanya terbatas pada bangunan, tetapi juga mengganggu aktivitas keagamaan dan pendidikan di wilayah tersebut.”

Kebijakan gencatan senjata diperpanjang untuk memungkinkan negosiasi antara pihak-pihak konflik. Namun, Israel terus mengintensifkan operasi militer, dengan perintah dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang memberikan instruksi khusus pada 25 Mei 2026. Instruksi ini memicu eskalasi serangan, termasuk serangan di Nabatieh, yang memperlihatkan ketegangan yang masih berlangsung.

Respons Internasional dan Dampak Serangan

Kerusakan pada gereja dan sekolah memperhatikan mata dunia, terutama karena dua bangunan tersebut menjadi simbol keberadaan komunitas Kristen di Lebanon. Dalam beberapa hari terakhir, berbagai organisasi internasional mengecam tindakan Israel, menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Para pemuka agama lokal menyatakan kekecewaan atas serangan yang menargetkan tempat ibadah dan tempat pendidikan.

Sementara itu, kelompok Hizbullah, yang sejak lama menjadi lawan utama Israel, meningkatkan perlawanan mereka. Organisasi ini melancarkan serangan terhadap posisi militer Zionis di Lebanon maupun di wilayah Israel. Peningkatan kegiatan perlawanan ini semakin memperkuat ketegangan, meski Hizbullah menegaskan bahwa serangan mereka dilakukan sebagai bentuk pertahanan terhadap serangan Israel.

“Kami tidak akan diam saja ketika pihak Israel melanggar kesepakatan yang telah dibuat,” ujar perwakilan Hizbullah dalam pernyataan terpisah. “Serangan terhadap gereja dan sekolah adalah bagian dari strategi untuk menekan komunitas Kristen dan menghancurkan kepercayaan mereka.”

Konflik antara Israel dan Lebanon yang berlangsung sejak tahun 2020 memasuki babak baru setelah perpanjangan gencatan senjata. Meski kesepakatan tersebut menawarkan harapan damai, pihak Israel tetap menjalankan operasi militer secara intensif. Serangan terhadap Nabatieh pada 29 Mei menjadi contoh nyata bahwa ketegangan belum sepenuhnya reda.

Analisis Kebijakan Gencatan Senjata

Kebijakan gencatan senjata yang diperpanjang selama 45 hari menimbulkan pertanyaan tentang keseriusan Israel dalam menegakkan kesepakatan. Meski Trump menyatakan dukungan terhadap usaha memulihkan perdamaian, pasukan Zionis tetap menunjukkan sikap agresif. Pemimpin negara-negara Arab lainnya mengkritik langkah Israel, mengatakan bahwa pihak tersebut mempermainkan harapan yang dijanjikan oleh Trump.

Dalam wawancara khusus, seorang analis keamanan dari Suriah menyatakan, “Gencatan senjata hanya menjadi pelindung sementara. Israel tidak pernah berhenti dalam mencapai tujuannya, terutama dalam menghancurkan kemungkinan kerja sama dengan komunitas Kristen.” Pernyataan ini mencerminkan kecemasan terhadap ketahanan perdamaian di masa depan.

Korban dan Dampak Sosial

Sejumlah warga setempat mengalami kerugian material akibat serangan ini, termasuk keluarga yang tinggal di dekat gereja. Sekolah Suster-Hati Kudus menjadi pusat perhatian karena kebanyakan siswa dari komunitas Kristen mengandalkan tempat tersebut untuk pendidikan mereka. Serangan tersebut menyebabkan gangguan belajar selama beberapa hari, dengan para siswa terpaksa mengikuti pembelajaran di tempat lain.

Para pejabat Lebanon menyatakan kekecewaan atas serangan Israel, menegaskan bahwa gencatan senjata tidak boleh dianggap sebagai jaminan keamanan. Mereka menuntut tindakan lebih tegas dari pihak Zionis untuk menjaga kesepakatan. Dalam sebuah pernyataan, Menteri Luar Negeri Lebanon menegaskan, “Serangan terhadap gereja dan sekolah menunjukkan ketidakpedulian Israel terhadap kehidupan sipil. Kami akan memperjuangkan hak mereka sampai akhir.”

Ketegangan antara Israel dan Lebanon semakin memuncak setelah beberapa hari terakhir menunjukkan pola serangan yang terus berulang. Meski negosiasi masih berlangsung, pasukan Israel terus menempuh strategi militer untuk menekan lawan mereka. Kehadiran Hizbullah dalam perang ini juga semakin memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya antara Israel dan Lebanon, tetapi juga melibatkan kelompok-kelompok gerilya yang berperan aktif dalam pertahanan.

Sejumlah saksi mata di Jdeidet Marjeyoun menggambarkan kekacauan

Leave a Comment