Special Plan: Banyak Tentara Israel Alami Cedera Otak Parah usai Perang di Gaza

Banyak Tentara Israel Alami Cedera Otak Parah usai Perang di Gaza

Sebuah laporan dari media Israel, Haaretz, mengungkapkan bahwa serangan militer di Jalur Gaza tidak hanya menyebabkan kematian warga sipil, tetapi juga menimpa prajurit-prajurit Israel sendiri. Lebih dari 400 tentara terluka selama konflik tersebut, dan sebagian besar di antaranya mengalami cedera otak berat. Angka ini memang signifikan, namun penelitian dan estimasi menunjukkan bahwa jumlah total prajurit dengan diagnosa cedera otak jauh lebih besar, mencapai sekitar 24.000 orang.

Banyak dari mereka awalnya tidak menyadari dampak cedera atau bahkan memilih tidak mencari pengobatan di fasilitas medis. Namun, gejala-gejala yang muncul lambat tetap mengganggu fungsi sehari-hari mereka. Sebagai contoh, Uri Reches, seorang tentara yang pernah terlibat dalam operasi di Gaza, kini mengalami kesulitan berbicara dan harus belajar kembali dari awal.

Kisah Tentara yang Kehilangan Kemampuan Berbicara

Uri Reches, yang sebelumnya bekerja sebagai prajurit tempur di Batalyon 50 Brigade Nahal, menderita cedera otak parah pada Desember 2023. Saat itu, ia berada di posisi terdepan saat pasukan menghancurkan bangunan-bangunan di wilayah perang. “Ketika mereka sampai di bangunan terakhir, pintunya meledak dan mengenai mereka, dan dia adalah orang yang paling dekat,” jelas Niv Alfa-Reches, ibunya.

“Mereka sedang membersihkan bangunan-bangunan,” kata Niv. “Pintu meledak dan menimpa Uri, mengakibatkan kerusakan serius di kepala dan wajahnya.”

Cedera yang diderita membuat Uri kehilangan kemampuan berbicara. Ia kini harus dipandu kembali seperti anak kecil, termasuk belajar membentuk kalimat dan mengelola diri sendiri. “Seluruh sisi kiri wajahnya hancur total,” tambah ibunya. Kondisi Uri dianggap kritis, dengan luka menyebar ke seluruh tubuhnya.

Fenomena cedera otak akibat perang di Gaza terus meningkat dalam dua tahun terakhir. Namun, hingga kini, Israel belum memiliki kebijakan rehabilitasi yang menyeluruh. Keluarga prajurit seringkali menjadi pihak yang menanggung beban perawatan, sementara sistem medis dan dukungan sosial masih belum memadai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *