Key Discussion: EU peringatkan gangguan berkepanjangan di pasar energi akibat perang
EU Peringatkan Gangguan Berkepanjangan di Pasar Energi Akibat Perang
Brussel – Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi menyebabkan kekacauan jangka panjang pada pasar energi, meskipun perang berakhir cepat. Pertemuan para menteri energi EU melalui platform video diadakan pada Selasa untuk menyamakan langkah respons. Setelah sesi tersebut, Jorgensen menegaskan bahwa dampaknya tidak akan hilang dalam waktu singkat.
“Bahkan jika perdamaian tercapai besok, konsekuensi tetap terasa,” ujarnya, menyoroti kerusakan infrastruktur energi di wilayah konflik.
Konflik yang berlangsung sekitar satu bulan telah mendorong harga gas di UE naik sekitar 70 persen, sementara harga minyak melonjak 50 persen. Jorgensen menambahkan bahwa biaya impor bahan bakar fosil blok tersebut meningkat hingga 14 miliar euro (1 euro = Rp19.537) atau sekitar 16,2 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp16.993).
Komisi Eropa tengah merancang strategi untuk mengurangi efek berkelanjutan pada pasar energi. Serupa dengan langkah diambil pada krisis tahun 2022, mereka berencana meluncurkan kebijakan yang bertujuan stabilisasi. Jorgensen mengingatkan bahwa tidak ada solusi tunggal yang cocok untuk semua situasi. Ia mendorong negara anggota mempertimbangkan pengurangan permintaan minyak, terutama untuk bahan bakar diesel dan avtur, sekaligus menjaga perlindungan kelompok rentan.
Pada 2022, EU mengenalkan tindakan darurat seperti mekanisme harga maksimum gas, pajak keuntungan tak terduga pada sektor energi, dan target pengurangan konsumsi gas alam. Langkah-langkah tersebut diharapkan bisa menjadi referensi saat menghadapi situasi serupa saat ini.