Key Strategy: Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Bikin Belanda Kocar-kacir

Pangeran Sambernyawa: Tokoh Pahlawan Nasional dengan Semboyan Tiji Tibeh

Pangeran Sambernyawa, yang secara resmi dikenal sebagai Raden Mas Said, adalah seorang tokoh pahlawan nasional yang dianggap sebagai simbol perlawanan melawan penjajahan Belanda. Ia lahir pada 8 April 1725 di Solo, Jawa Tengah, sebagai putra tertua dari Raja Amangkurat IV. Ayahnya, Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura, dibuang ke Sri Lanka oleh pihak penjajah karena dituduh menentang kekuasaan VOC. Di usia dua tahun, Raden Mas Said kehilangan ibunya, RA Wulan, yang wafat saat melahirkannya.

Perjuangan Teguh dan Pengorbanan

Dari kecil, Raden Mas Said tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dari kehidupan bangsawan biasa. Ia tinggal bersama anak-anak para abdi dalem, sehingga memahami secara mendalam penderitaan rakyat kecil. Sebagai seorang pangeran, ia memiliki kesaktian dan pasukan yang tangguh, tetapi perlakuan dari raja keraton saat itu tidak memberinya kehormatan layaknya seorang pemimpin.

Pada 1741–1742, Pangeran Sambernyawa memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda. Perjuangan ini melibatkan daerah Selogiri, Wonogiri, dan berlanjut selama sembilan tahun bersama Pangeran Mangkubumi melawan Mataram serta Belanda. Sejumlah literatur menyebutkan bahwa ia menggunakan semboyan Tiji Tibeh untuk memotivasi pasukannya, yaitu “mati satu mati semua atau makmur satu makmur semua.”

“Tiji Tibeh” (mati satu mati semua atau makmur satu makmur semua) menjadi semboyan yang menginspirasi pasukan saat berperang. Slogan ini mencerminkan semangat perlawanan yang tidak hanya mengutamakan keberhasilan, tetapi juga kesetiaan terhadap keadilan.

Kesepakatan Politik dan Kemenangan

Pada 1755, setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Sambernyawa terus berperang melawan VOC dan pasukan raja Pakubuwono III. Perundingan akhirnya tercapai di Salatiga pada 17 Maret 1757. Kesepakatan itu memberinya gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro I, dengan wilayah yang mencakup bagian Wonogiri, Karanganyar, dan Gunungkidul.

Dengan semboyan Tiji Tibeh dan strategi yang cemerlang, ia dikenal sebagai “penyambar nyawa” atau penebar maut bagi musuh. Konon, ia pernah menggunakan batu gilang sebagai alat perencanaan strategi, yang kini menjadi simbol awal perjuangannya melawan ketidakadilan dan penjajahan.

Legasi Abadi di Tanah Jawa

Pangeran Sambernyawa meninggal pada 28 Desember 1795, tetapi perjuangannya tidak pernah terlupakan. Hingga 1983, ia diakui sebagai tokoh pahlawan nasional atas kontribusinya dalam merebut kemerdekaan. Kisahnya terus menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya, menggambarkan semangat perlawanan yang berakar dari keadilan dan kebersamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *