Key Discussion: Wapres AS Sebut Perundingan dengan Iran Gagal Capai Kesepakatan!
Wapres AS Sebut Perundingan dengan Iran Gagal Capai Kesepakatan!
Negosiasi dengan Iran Berakhir Tidak Berhasil
Dari Jakarta, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengungkapkan bahwa perundingan dengan Iran tidak berhasil mencapai kesepakatan, dan menyatakan akan kembali ke negara asal setelah mengajukan “tawaran terakhir dan terbaik.” Setelah 21 jam diskusi di Islamabad, ibu kota Pakistan, Vance menegaskan bahwa pihak AS masih memberi ruang bagi Iran untuk mempertimbangkan penawaran yang ditujukan.
“Kami pulang dari sini dengan sebuah proposal yang sangat sederhana, sebuah kesepakatan yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah pihak Iran menerimanya,” ujar Vance kepada wartawan, Minggu (12/4/2026), menurut laporan AFP.
Isu utama yang menyebabkan ketegangan adalah senjata nuklir. Iran mempertahankan pendiriannya bahwa mereka tidak mengejar bom atom, sementara AS dan Israel telah menargetkan lokasi sensitif di Iran selama perang yang dimulai 28 Februari dan tahun lalu. Vance menjelaskan bahwa inti perbedaan terletak pada komitmen Iran terhadap pengembangan senjata nuklir.
“Faktanya sederhana: kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir dan tidak akan mengejar alat-alat yang memungkinkan mereka mengembangkannya dengan cepat,” tegas Vance. “Pertanyaannya jelas: apakah kami melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir—bukan hanya sekarang, bukan hanya dua tahun ke depan, tetapi untuk jangka panjang? Kami belum melihat itu. Kami berharap akan melihatnya.”
Di sebuah hotel mewah di Islamabad, tempat kedua belah pihak bertemu, Vance tidak menyebutkan adanya ketidaksepakatan mengenai isu penting lainnya, yaitu pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur laut tersebut menjadi pintu utama untuk seperlima pasokan minyak global. Namun, ia menegaskan bahwa Presiden Donald Trump, yang pada hari Sabtu menyatakan tidak peduli apakah kesepakatan tercapai, tetap bersikap akomodatif dalam proses negosiasi.
“Saya pikir kami cukup fleksibel. Kami cukup akomodatif. Presiden mengatakan kepada kami, ‘Kalian harus datang ke sini dengan itikad baik dan berusaha sebaik mungkin mencapai kesepakatan.’ Kami melakukannya, dan sayangnya, kami tidak berhasil mencapai kemajuan.”