1.378 Gempa Susulan Guncang Sulut-Malut – BMKG Sebut Intensitas Mereda
1.378 Gempa Susulan Guncang Sulut-Malut, BMKG Sebut Intensitas Mereda
Pemicu Gempa Besar di Wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara
Gempa besar berkekuatan M7,6 terjadi pada 2 April di wilayah Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut), disertai tsunami kecil dengan tinggi sekitar 1 meter. BMKG memproyeksikan guncangan akibat gempa susulan akan berkurang secara signifikan dalam 2 hingga 3 minggu setelah peristiwa utama. Namun, intensitas getaran tetap menunjukkan variasi, sehingga getaran sesekali mungkin masih terasa sebelum kondisi stabil.
Kondisi Gempa Susulan Berdasarkan Data BMKG
Dari hari pertama hingga hari keenam, BMKG mencatat penurunan konsisten dalam jumlah gempa susulan. Di hari pertama, terdapat 394 kejadian, yang lalu berkurang hingga mencapai 91 gempa pada hari keenam dan 63 pada hari ketujuh. Meski tren menunjukkan penurunan, fluktuasi intensitas masih bisa terjadi, menurut Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama.
“Meskipun tren menunjukkan penurunan, intensitas gempa selama masa peluruhan ini bersifat fluktuatif, sehingga getaran yang dirasakan sesekali mungkin masih muncul sebelum kondisi benar-benar stabil,”
Kegiatan Survei dan Verifikasi Dampak
Tim survei gabungan BMKG, yang melibatkan unit dari pusat hingga UPT di Sulut dan Malut, terus memvalidasi dampak di lapangan. Survei makroseismik menunjukkan guncangan terkuat mencapai skala VII MMI di Kecamatan Pulau Batang Dua. Selain itu, jejak rendaman tsunami setinggi 0,5 hingga 1,5 meter telah terverifikasi di Bitung, Pulau Lembeh, Minahasa Utara, dan Minahasa Tenggara.
Langkah Mitigasi untuk Pemulihan
Untuk memastikan keamanan warga, BMKG melakukan pengukuran mikrozonasi untuk memetakan risiko likuefaksi dan longsor. Langkah ini disertai sosialisasi luas kepada masyarakat untuk mengurangi penyebaran informasi hoaks. Nelly menekankan pentingnya edukasi tentang prosedur evakuasi mandiri agar masyarakat memahami cara mitigasi yang tepat.
Pesan BMKG kepada Masyarakat
Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, mengimbau warga tetap waspada meski tidak perlu panik. Ia menyarankan menghindari bangunan dengan struktur rusak atau retakan signifikan guna mencegah risiko runtuhan akibat gempa susulan. Selain itu, area lereng perbukitan yang rawan longsor harus dijauhi karena tanah masih tidak stabil pasca-gempa.