Latest Program: Abdulla Al Futtaim, Penguasa Otomotif Timur Tengah Berharta Rp80,3 T
Abdulla Al Futtaim, Pemimpin Bisnis Otomotif Timur Tengah dengan Kekayaan Rp80,3 Triliun
Di balik cahaya gemerlap Dubai, yang menjadi pusat bisnis global, Abdulla Al Futtaim dikenal sebagai salah satu tokoh sentral yang menggerakkan perekonomian. Ia adalah figur utama Al Futtaim Group, perusahaan konglomerasi keluarga yang menyebar ke berbagai sektor seperti otomotif, ritel, properti, jasa keuangan, layanan kesehatan, dan pendidikan.
Bisnis yang Dibangun
Ekspansi bisnis grup ini mencakup lebih dari 200 merek yang beroperasi di 20 negara berbeda. Perusahaan kini memiliki sekitar 42 ribu karyawan. Dalam beberapa tahun terakhir, strategi akuisisi membawa bisnis Al Futtaim dari wilayah Teluk hingga Asia Tenggara, Asia Utara, Australasia, Afrika Timur, serta Eropa.
Sejarah Awal
Abdulla lahir pada Januari 1940 di Dubai, UAE, dalam keluarga pedagang ternama. Pada masa awalnya, Dubai hanya berupa kota pelabuhan yang bergantung pada pengeboran mutiara dan perdagangan maritim. Namun, industri mutiara mulai memudar pada 1930-an akibat kompetisi dari produksi mutiara secara global, yang mendorong warga Dubai untuk beralih ke perdagangan tekstil, rempah, dan emas.
Mengubah Perdagangan Menjadi Bisnis Otomotif
Kakeknya, Hamad Al Futtaim, membangun fondasi bisnis keluarga pada tahun 1930-an dengan fokus pada impor, ekspor, penangkapan karang, serta layanan transportasi haji. Abdulla memasuki dunia bisnis keluarga pada usia 15 tahun, 1955, dengan sukses memperoleh hak distribusi eksklusif Toyota di UAE. Ia pun melanjutkan warisan perdagangan keluarga dengan membantu mengarahkan bisnis Al Futtaim ke impor otomotif, memanfaatkan peluang ekonomi baru di era pasca penemuan minyak.
Ekspansi Global
Pada akhir dekade 1970-an, Abdulla mendorong ekspansi internasional dengan menghubungkan Toyota dan pemerintah Mesir, yang membuahkan pembentukan Toyota Egypt pada 1979. Langkah ini menjadi awal internasionalisasi bisnis otomotif grup. Di akhir 1980-an, keluarga Al Futtaim mulai mengembangkan bisnis ritel. Salah satu tonggak penting adalah pembukaan toko IKEA pertama di Dubai pada 1991 di area Karama.
Menurut Forbes, kekayaan Abdulla mencapai US$4,7 miliar atau sekitar Rp80,3 triliun, berdasarkan kurs Rp17.089 per dolar AS.
Pemisahan Bisnis dan Kepemimpinan
Pada 2000, perusahaan dibagi untuk meningkatkan fokus dan efisiensi. Abdulla memegang bisnis otomotif dan ritel, sementara Majid Al Futtaim mengelola sektor properti, rekreasi, dan hiburan. Pemisahan ini dimediasi oleh Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum. Untuk menjaga kesinambungan bisnis keluarga, Abdulla menunjuk putranya, Omar Al Futtaim, sebagai wakil ketua dan CEO sejak 2001 hingga saat ini.
Omar kini memimpin operasional harian dan strategi pertumbuhan, sementara Abdulla tetap menjadi ketua dan pemilik utama. Divisi otomotif, sebagai motor penggerak utama bisnis grup, terus menjadi penyumbang pendapatan terbesar yang menjadikannya salah satu orang terkaya di Timur Tengah.