Visit Agenda: Tentara Ini Bersembunyi di Hutan 29 Tahun, Tak Tahu Perang Sudah Berakhir
Tentara Ini Bersembunyi di Hutan 29 Tahun, Tak Tahu Perang Sudah Berakhir
Setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, tidak semua perang berakhir dengan keberhasilan atau keputusan yang jelas. Ada kisah tentang prajurit Jepang yang terus berlindung di hutan Filipina hingga puluhan tahun setelah musuh menang. Salah satu contoh adalah Letnan Hiroo Onoda, yang menghabiskan 29 tahun hidup tersembunyi di hutan, tak menyadari bahwa perang yang ia perjuangkan telah usai.
Latihan dan Instruksi Kode Perang
Menurut laporan BBC, Onoda direkrut ke pasukan Jepang pada tahun 1942. Ia dipilih untuk mengikuti pelatihan gerilya di Sekolah Militer Nakano, cabang Futamata. Saat itu, ia diberi instruksi kode medan perang Senjinkun, yang melarang prajurit Jepang untuk menyerah secara sukarela. Dalam panduan ini, para tentara diperintahkan untuk mati dalam pertempuran atau mengorbankan diri sendiri.
“Anda sama sekali dilarang untuk mati dengan tangan Anda sendiri,” kata Onoda seperti yang tercatat dalam memoarnya tahun 1974 berjudul No Surrender: My Thirty-Year War.
“Dalam keadaan apa pun Anda tidak boleh menyerahkan hidup Anda secara sukarela,” tambahnya.
Onoda diberi tugas menghancurkan lapangan terbang Pulau Lubang serta dermaga dekat pelabuhan, sambil menargetkan pesawat atau awak musuh yang mencoba mendarat. Meski gagal, ia dan rekan-rekannya memilih bersembunyi di hutan belantara setelah pasukan musuh menguasai pulau itu.
Ketidaktahuan akan Kemenangan Jepang
Perang segera berakhir, tetapi selebaran yang dijatuhkan di Lubang untuk mengumumkan penyerahan Jepang pada 15 Agustus 1945 dianggap sebagai palsu oleh Onoda dan dua rekan yang tersisa. Mereka tetap berjaga-jaga, percaya bahwa musuh masih mengejar kemenangan mereka.
Dalam waktu beberapa tahun, Onoda menjadi satu-satunya prajurit Jepang yang tinggal sendirian di hutan. Selama 29 tahun, ia hidup dengan makan kulit pisang, kelapa, dan beras yang dicuri. Banyak suara dari udara seperti jet dan selebaran dianggap sebagai serangan balik Jepang atau propaganda musuh.
Pertemuan dengan Komandan dan Kembali ke Jepang
Sampai tahun 1974, Onoda akhirnya keluar dari hutan setelah mantan komandannya, Mayor Yoshimi Taniguchi, datang langsung ke lokasi untuk memberikan perintah resmi menyerah. Saat itu, ia menyadari bahwa Perang Dunia Kedua telah berakhir. Setelah kembali ke Jepang, Onoda mendapat sambutan sebagai pahlawan—ia menjadi prajurit Jepang terakhir yang pulang dari medan perang.
Menjelang pulang, Onoda menulis memoarnya yang menjadi buku terlaris di Jepang. Kisah hidupnya juga diadaptasi dalam film epik tiga jam karya Arthur Harari, berjudul Onoda: 10,000 Nights in the Jungle. Film ini mendapat pujian dari kritikus, tetapi juga menimbulkan kontroversi sejak tayang perdana di Festival Film Cannes pada 2021.