Special Plan: Satpol PP DKI Tertibkan Pangkalan Bajaj di Tanah Abang Usai Viral Kena Palak Preman, Minta Sopir Tak Ngetem

Satpol PP DKI Jakarta Tertibkan Pangkalan Bajaj di Tanah Abang Setelah Viral Kasus Pemalakan

Setelah video viral di media sosial menunjukkan oknum preman meminta uang kepada sopir bajaj, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta melakukan penertiban di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kepala Satpol PP DKI, Satriadi Gunawan, menjelaskan bahwa tindakan ini bertujuan mencegah praktik pungutan liar (pungli) yang sering menimpa para pengemudi saat mereka selesai mengangkut penumpang.

Menurut Satriadi, para sopir bajaj dalam praktiknya mengaku diberi tekanan untuk membayar sejumlah uang setiap kali mendapatkan penumpang. “Sopir mengatakan mereka dikenai Rp20.000 per sekali penumpang. Jika tidak, bisa terjadi ancaman atau bahkan kekerasan,” katanya kepada Liputan6.com, Minggu (12/4). Penertiban juga dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan di daerah tersebut.

Kasus Pemalakan Viral di Instagram

Kasus pemalakan ini menjadi perbincangan luas setelah diunggah akun @jakarta.terkini ke media sosial. Dalam video yang beredar, seorang pria diduga meminta uang setoran kepada sopir bajaj. Sopir dalam video mengatakan terpaksa membayar total sekitar Rp100 ribu per hari, jauh lebih tinggi dari tarif biasa.

“Sehari seratus ribu sih,” ujar sopir dalam rekaman. Ia menambahkan, jika tidak memberikan uang, sopir bisa diteriaki maling dan mengalami tindakan fisik.

Satriadi menyebut pihaknya telah mengantongi identitas oknum yang diduga terlibat dan melaporkan ke kepolisian untuk ditindaklanjuti. Selain itu, ia menegaskan bahwa bajaj seharusnya bergerak bebas dan tidak menetap di satu titik terlalu lama.

Pungli di Bekasi Juga Muncul

Di sisi lain, praktik pungutan liar kembali muncul di Jalan Kebon Melati 1, Tanah Abang. Seorang sopir truk mencatat aktivitas pungli yang terjadi saat kendaraannya berhenti di pinggir jalan Daan Mogot. “Saya suami istri, dimintai ongkos Rp500.000 buat berdua. Padahal biasanya cuma Rp100.000,” katanya.

Provos terus menindak polisi yang diduga melanggar disiplin, sementara pemerintah tetap ingin menjaga keberadaan becak sebagai transportasi tradisional. Penertiban pangkalan bajaj diharapkan bisa menjadi langkah awal dalam memperbaiki situasi di kawasan Tanah Abang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *