Solving Problems: Harga Masih Tinggi, Ini Negara yang Doyan Borong Emas Bank Sentral
Harga Emas Tetap Menguat, Negara-Negara Ini Aktif Meningkatkan Cadangan
Harga emas global terus menguat sepanjang minggu ini, didorong oleh kelemahan dolar AS dan sikap hati-hati investor terhadap kemungkinan krisis antara AS dan Iran. Refinitiv mencatat, harga emas menutup perdagangan Jumat (10/4/2026) pada US$ 4.747,49 per troy ons, dengan penurunan 0,34% harian, tetapi naik 1,54% dalam seminggu secara point-to-point.
Sejumlah bank sentral tetap aktif membeli emas, meski pola pembelian mereka mulai berubah. Laporan World Gold Council April 2026 menunjukkan, kebanyakan negara masih menambah cadangan, sementara sebagian lain mulai menurunkan stok. Polandia menjadi negara dengan pembelian terbesar tahun ini, menambah 20,2 ton sehingga total cadangannya mencapai 570,4 ton, mengisi posisi ke-13 global.
Kedua negara dengan produksi emas domestik besar, Uzbekistan dan Kazakhstan, juga menambah stok. Uzbekistan menambah 7,8 ton, membawa total cadangan hingga 406,8 ton. Sementara Kazakhstan menambah 7,7 ton, total cadangan negara itu sekarang 347,6 ton. Kedua negara ini memiliki ketersediaan pasokan lokal yang memungkinkan peningkatan cadangan tanpa terlalu bergantung pada pasar global.
Di Asia, Malaysia membeli 1,6 ton, total cadangannya kini 43,9 ton. China menambah 0,9 ton, menjadikan total cadangan negara itu 2.308,5 ton, urutan ke-7 dunia. Meski kecepatan pembelian melambat dibanding periode sebelumnya, tindakan Beijing tetap mendapat perhatian pasar karena peran penting negara tersebut dalam permintaan resmi internasional.
Dari sisi penjualan, Turki mencatat penurunan terbesar dengan 8,1 ton, tetapi total cadangan emas negara itu masih tinggi di 595 ton, urutan ke-12 global. Rusia juga mengurangi 6,2 ton, total cadangan mencapai 2.311 ton, urutan ke-6 dunia. Posisi ini menempatkan Rusia tepat di atas China. Meski terjadi penurunan, Moskow tetap dianggap sebagai salah satu pemilik emas terbesar setelah akumulasi panjang selama lebih dari satu dekade.
Indonesia belum mengalami perubahan signifikan pada 2026, dengan total cadangan emas sebesar 87 ton, urutan ke-44 dunia. Angka ini masih lebih rendah dibanding Thailand (234,5 ton) dan Singapura (193,8 ton). Porsi emas terhadap cadangan devisa Indonesia hanya sekitar 9,6%, jauh lebih kecil dibanding negara-negara yang aktif menumpuk emas.
“Kombinasi data ini penting bagi pasar, karena arus pembelian dari Polandia dan Asia Tengah masih mendukung permintaan, sementara penjualan Turki dan Rusia menambah pasokan. Konsentrasi kepemilikan emas di negara besar membuat harga tetap rentan terhadap keputusan segelintir bank sentral utama,” tulis CNBC Indonesia Research.