New Policy: YBJI Gelar “Ngabaladahan Jelekong”, Angkat Karya Seniman Lokal ke Kancah Global
YBJI Gelar “Ngabaladahan Jelekong”, Angkat Karya Seniman Lokal ke Kancah Global
YBJI berhasil menyelenggarakan acara “Ngabaladahan Jelekong” yang menampilkan 112 karya seniman lokal, berupaya memperluas jangkauan pasar global. Kegiatan ini juga berperan dalam melestarikan tradisi seni Nusantara sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Pameran budaya bertajuk “Ngabaladahan” diadakan di Kampung Seni Jelekong, Baleendah, Bandung Selatan, pada Sabtu (11/4). Acara tersebut menarik minat dari masyarakat umum dan pejabat setempat, dengan menampilkan karya-karya dari seniman wilayah tersebut.
Sejarah dan Praktik Seni Komunal
Ketua Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia (YBJI), Arya Sudradjat, menjelaskan bahwa “Ngabaladahan” mengacu pada istilah lokal yang menggambarkan tahap awal pengolahan kanvas kosong. Lebih dari itu, acara ini dianggap sebagai bentuk praktik seni bersama yang mengandalkan kolaborasi masyarakat Jelekong. Sebagai bagian dari konsep “Jelekongism”, acara ini bertujuan untuk mengeksplorasi kembali warisan visual tradisional Nusantara, sehingga seni Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada seni Barat.
“Ngabaladahan” adalah istilah dalam dialek lokal yang merujuk pada proses awal mengolah kanvas kosong. Ini dianggap sebagai praktik seni komunal yang di dasarkan pada kebersamaan masyarakat Jelekong.
Transformasi dan Teknik Khas
Kampung Jelekong memiliki riwayat seni yang panjang, mulai dari lukisan gua di Sulawesi hingga berkembang menjadi komunitas pelukis yang mandiri sejak 1970-an. Perkembangan ini dipelopori oleh Abah Odin, seorang maestro yang memberikan fondasi kuat bagi seni lukis daerah. Jelekong telah berubah dari masyarakat pertanian menjadi pusat seni inovatif, dengan mengembangkan teknik unik seperti sebring, beludru, dan spon. Teknik-teknik ini terus berevolusi dan menjadi ciri khas karya seni lokal hingga kini.
Kreativitas dan Keberlanjutan
Salah satu daya tarik utama dari acara ini adalah lukisan kolektif berukuran 11 x 4 meter yang dibuat oleh 60 pelukis melalui gotong royong. Karya ini menampilkan inovasi bahan dengan menggunakan karung terigu daur ulang sebagai media. Seniman juga memadukan tinta racikan khas daerah, memberikan kesan unik pada setiap goresan. Penggunaan bahan nonkonvensional ini mencerminkan kreativitas serta kesadaran tentang keberlanjutan, membuktikan bahwa seni bisa berkembang dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Komitmen dan Pengembangan Ekonomi
Pendiri YBJI, Susrinah Sanyoto, menegaskan bahwa yayasan berkomitmen untuk menjembatani seniman Jelekong agar mampu menembus pasar nasional dan internasional. Upaya ini diharapkan meningkatkan apresiasi terhadap seni lokal. Susrinah menjelaskan bahwa kualitas karya menjadi faktor penting untuk menaikkan nilai jual dan meningkatkan kesejahteraan para pelukis. Dengan kualitas yang mumpuni, karya seni Jelekong memiliki peluang besar untuk bersaing secara global.
Potensi Lain dan Pelatihan Seni
Sari Ramdani, pengurus YBJI, menyoroti potensi besar Jelekong dalam membangun ekonomi kreatif, yang tidak hanya terbatas pada lukisan. Potensi tersebut mencakup kuliner khas, pertunjukan wayang golek menarik, serta produksi mandiri alat melukis. YBJI juga aktif mengembangkan program residensi dan pelatihan melukis untuk wisatawan, termasuk dari luar negeri. Program ini memungkinkan peserta belajar langsung di Jelekong, mengayaai pengalaman budaya, serta memperkenalkan seni lokal ke dunia internasional.
Apresiasi kepada Maestro Seniman
Dalam rangkaian acara, YBJI memberikan penghargaan kepada sejumlah seniman senior. Salah satunya adalah Abah Odin, yang dikenal karena kemampuannya mengadaptasi gerakan silat ke dalam teknik melukis. Penghargaan ini sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan kontribusi para seniman senior dalam membentuk identitas seni Jelekong. Kehadiran mereka menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin terus berkarya dan berinovasi.
“Abah Odin dikenal luas karena kemampuannya mengadaptasi gerakan silat ke dalam teknik melukisnya.”
Acara semakin meriah dengan penampilan tarian yang menarik dari Lentik Rolas dan Cahaya Sawargi, menunjukkan kekayaan budaya lokal. Demonstrasi melukis langsung di hadapan pengunjung dan pejabat juga menjadi tontonan menarik, menggambarkan proses kreatif seniman. Festival Seni di Kutai Kartanegara, termasuk Lanjong Art, juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan seni Jelekong ke lebih luas.