New Policy: Video: Nyontek Singapura, Ini Syarat Bisnis Pelayaran-Logistik Efisien
Video: Mengambil Referensi dari Singapura, Ini Kondisi Bisnis Pelayaran dan Logistik yang Efisien
Jakarta, Dalam suasana ketegangan geopolitik global serta hambatan pada rantai pasok yang ditimbulkan oleh konflik antara Iran dan AS, Bani Mulia, Direktur Utama PT Samudera Indonesia, memberikan perspektif tentang dampak yang diakibatkan terhadap industri pelayaran dan logistik di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa fluktuasi harga minyak global saat ini mendorong sektor transportasi laut untuk mengoptimalkan penggunaan bahan bakar, baik dari segi akses maupun biaya.
Dalam konteks ini, penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang memengaruhi jalur distribusi di Timur Tengah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik secara signifikan. Meski menghadapi tantangan tersebut, Bani Mulia tetap optimistis tentang potensi pertumbuhan industri logistik dan transportasi laut nasional. Ia berharap sektor ini mampu memperkuat kapasitas layanan dan meningkatkan daya saing logistik Indonesia.
Langkah Kebijakan dan Ekosistem Logistik yang Perlu Diperbaiki
Berkaca dari pengalaman Singapura, Bani Mulia menekankan bahwa Indonesia perlu melakukan reformasi kebijakan serta menjamin kepastian hukum untuk mendukung investasi dalam bidang logistik. Penguatan ekosistem logistik, menurutnya, menjadi kunci agar layanan transportasi bisa lebih efisien dan berkelanjutan.
“Bagaimana pengusaha pelayaran mengantisipasi dampak perang pada bisnis logistik? Apa strategi mereka untuk menghadapi tren pengembangan Green shipping?”
Untuk mendalami lebih jauh, simak wawancara Dina Gurning dengan Bani Mulia dalam Focus On Infra, CNBC Indonesia (Rabu, 08/04/2026). Dialog ini membahas perubahan dan tantangan yang dihadapi industri transportasi laut serta upaya peningkatan efisiensi logistik di tengah dinamika ekonomi global.