Main Agenda: Said Abdullah Tegaskan Poros NU–PDI Perjuangan di Jatim, Halalbihalal Jadi Penangkal Politik Kepalsuan
Said Abdullah Tegaskan Poros NU–PDI Perjuangan di Jatim, Halalbihalal Jadi Penangkal Politik Kepalsuan
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menggarisbawahi pentingnya hubungan strategis antara Nahdlatul Ulama (NU) dan partainya dalam upaya membangun kebangsaan. Ia menegaskan bahwa dua organisasi tersebut memiliki keselarasan ideologis yang signifikan, khususnya dalam menekankan nilai-nilai Islam wasathiyah—yang moderat, adil, seimbang, dan toleran. Nilai ini, menurut Said, menjadi dasar perjuangan politik yang kuat di Jawa Timur.
Perpaduan ‘Ijo-Abang’ sebagai Fondasi Sosial Politik
Dalam acara Halalbihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said mengungkapkan bahwa integrasi antara santri dan abangan semakin menguat. Ia menyebut istilah ‘ijo-abang’ yang menggambarkan kerja sama antar kelompok ini sebagai akar sosial-politik yang telah menopang masyarakat Jatim hingga tingkat desa. “Perbedaan antara santri dan abangan hanya sehelai bulu, tetapi nasib sosial-ekonomi mereka tak berbeda,” ujarnya dalam pidato.
“Santri dan abangan hanya berbeda sehelai bulu, tetapi nasib sosial-ekonominya sama.”
Said menambahkan bahwa partai banteng itu bertugas memperjuangkan kebijakan yang mengangkat kesejahteraan warga NU serta masyarakat luas Jawa Timur. Ia juga menekankan bahwa keislaman yang dianut harus mampu melindungi semua kelompok, termasuk minoritas. “Keislaman kita harus menjadi pelindung, bukan alat menakut-nakuti,” lanjutnya.
Komitmen pada Kebenaran di Era Post-Truth
Dalam kesempatan tersebut, Said juga mengingatkan pentingnya menjaga kejernihan berpikir di tengah situasi politik yang kini dihiasi informasi palsu. Ia menyebut masyarakat berada di era post-truth, di mana batas antara fakta dan kebohongan semakin kabur. Media sosial, menurutnya, sering menjadi tempat penyebaran wajah politik yang menyesatkan.
“Dalam politik, kita harus konsisten, adil sejak dari pikiran, tidak menghasut, serta terus membuka tali silaturahmi.”
Said mengajak seluruh kader untuk menerapkan tabayun dan memperkuat hubungan silaturahmi guna menjaga keutuhan persatuan. Ia menutup sambutannya dengan menyatakan komitmen PDI Perjuangan terhadap kejujuran, kerendahan hati, dan perjuangan yang berpihak kepada rakyat.
Histori Halalbihalal sebagai Warisan Persatuan
Said menyoroti makna historis tradisi halalbihalal sebagai simbol persatuan nasional. Ia mengingatkan bahwa istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah kepada Bung Karno pada 1948, saat Indonesia menghadapi konflik politik dan ancaman kembalinya Belanda. Dalam momen itu, Bung Karno mengundang tokoh politik ke Istana Negara untuk bersilahturahmi dan merekonstruksi persatuan.
Kontribusi Tokoh NU dalam Pembangunan Nasional
Ketua Golkar Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengapresiasi peran NU dalam mendorong peradaban bangsa, terutama melalui pendidikan pesantren dan semangat moderasi Islam. Sementara itu, Bupati Temanggung, Agus Setyawan, memuji kontribusi kader NU dalam menjaga persatuan dan menolak radikalisme. Said juga mengingatkan calon kepala daerah yang diusung PDIP untuk memahami konsep Ahlussunnah Wal Jamaah.
Penguatan Kebangsaan dan Kepemimpinan
Menurut Said, peran NU dan PDI Perjuangan sangat krusial dalam menjaga konsistensi nilai kebangsaan. Ia menyebut Megawati memiliki ikatan batin yang kuat dengan Jawa Timur. Umar, pendiri NU, menambahkan bahwa nilai-nilai kebangsaan dan Islam saling terkait erat, sementara Nusron menegaskan bahwa tokoh NU sentral kini merapatkan barisan untuk mendukung Prabowo-Gibran.