Key Strategy: Angkatan Belia Islam Malaysia kecam serangan gugurkan personel TNI
Angkatan Belia Islam Malaysia Kecam Serangan yang Menewaskan Anggota TNI di Lebanon
Kuala Lumpur menjadi panggung utama bagi pernyataan kecaman dari Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), organisasi kepemudaan berbasis agama Islam di negara ini. ABIM mengecam serangan terhadap markas pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) yang menyebabkan kematian satu prajurit TNI, Praka Farizal Rhomadhon, serta cedera pada beberapa anggota lainnya.
“ABIM menyatakan pengecaman tajam terhadap serangan yang merugikan pasukan penjaga perdamaian, khususnya dalam menewaskan anggota TNI, Praka Farizal Rhomadhon,” ujar Presiden ABIM, Ahmad Fahmi bin Mohd Samsudin.
Fahmi menegaskan bahwa insiden ini tidak hanya dianggap sebagai tragedi lokal, tetapi sebagai tanda norma keamanan internasional sedang tergerus. Ia mengatakan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian menunjukkan ketidakmampuan sistem keamanan kolektif untuk melindungi entitas netral di lapangan.
Langkah yang Direkomendasikan
ABIM menyerukan tindakan cepat dan koordinasi internasional untuk memperkuat perlindungan pasukan perdamaian. Presiden Fahmi menambahkan bahwa setiap keterlambatan dalam respons bisa memperparah risiko eskalasi konflik dan mengurangi kepercayaan terhadap institusi global.
Di sisi lain, ABIM mengapresiasi kehadiran anggota Batalion Malaysia (MALBATT) di Lebanon sebagai bagian dari misi UNIFIL. Namun, pihaknya meminta pemerintah Malaysia memberikan pemutakhiran keamanan prajurit serta meningkatkan protokol perlindungan sesuai kondisi operasi saat ini.
Pernyataan Presiden ABIM
Fahmi menggarisbawahi bahwa Malaysia, bersama Indonesia dan negara-negara ASEAN, harus menyelaraskan posisi untuk mendorong jaminan keamanan yang lebih ketat di PBB. Ia juga menekankan pentingnya ASEAN berperan aktif, bukan sekadar pengamat, dalam menghadapi ancaman terhadap pasukan perdamaian.
ABIM meminta Malaysia memperkuat perannya sebagai suara konsisten dalam menjaga hukum internasional. Pihaknya mengusulkan pembahasan isu ini di platform multilateral seperti Gerakan Non-Blok (NAM) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). “Keselamatan pasukan penjaga perdamaian adalah garis merah yang tidak boleh dikompromikan dalam segala kondisi konflik,” tegas Fahmi.
Imbauan untuk Koordinasi Regional
Menurut Fahmi, kegagalan dalam menindaklanjuti serangan semacam ini berisiko menciptakan preseden buruk, di mana pasukan perdamaian tidak lagi dianggap netral. Ia menyoroti perlunya pendekatan diplomasi yang lebih keras, kerja sama regional yang solid, serta komitmen global yang jelas untuk menjaga keamanan pasukan internasional.
Kehilangan Praka Farizal Rhomadhon dianggap sebagai dampak serius bagi komunitas internasional yang berjuang mempertahankan perdamaian. ABIM juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta solidaritas kepada rakyat dan pemerintah Indonesia atas kehilangan ini.