Main Agenda: PHRI Banyumas harap okupansi hotel tak terimbas efisiensi anggaran

PHRI Banyumas Harap Kebijakan Efisiensi Anggaran Tidak Menghambat Tingkat Hunian Hotel

Situasi Sektor Perhotelan di Banyumas

Purwokerto – Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Banyumas, Irianto, mengungkapkan kekhawatiran bahwa kebijakan efisiensi anggaran pemerintah berpotensi mengganggu pemulihan sektor perhotelan dan restoran di wilayah tersebut. Menurutnya, industri ini masih dalam proses pemulihan setelah dampak pandemi COVID-19, sehingga diperlukan dukungan kegiatan, termasuk yang digelar pemerintah.

Kebijakan Efisiensi dan Aktivitas Pemerintah

Irianto menyebutkan bahwa sektor perhotelan sempat diberi ruang untuk bangkit, terutama setelah Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memberikan izin bagi daerah-daerah untuk kembali menggelar acara di hotel dan restoran pada pertengahan tahun 2025. Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan ini belum memberikan dampak besar, karena penyelenggaraan kegiatan pemerintah di sektor tersebut masih terbatas.

“Dengan adanya efisiensi anggaran ini tentu akan ada dampaknya bagi kami, karena selama ini kegiatan pemerintah menjadi salah satu penopang okupansi hotel,” kata Irianto.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi

Di tengah kebijakan efisiensi, Irianto mengkhawatirkan bahwa terapan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) serta rencana penerapannya kepada pekerja swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bisa mengurangi frekuensi pertemuan, rapat, atau agenda lain yang biasanya diadakan di hotel dan restoran.

“Kami berharap kegiatan-kegiatan pemerintah tetap berjalan di hotel dan restoran walaupun anggarannya dipangkas, karena operasional hotel harus tetap berjalan dan ada karyawan yang menggantungkan hidupnya di sektor ini,” tambahnya.

Lebaran dan Momentum Pemulihan

Irianto mengakui bahwa okupansi hotel di Banyumas belum menunjukkan peningkatan signifikan, bahkan momentum libur Lebaran yang biasanya menjadi pendorong tinggi tidak memberikan hasil optimal. Menurutnya, tingkat hunian hanya mencapai sekitar 60 persen, padahal biasanya bisa mencapai 80 persen.

“Harapannya saat Lebaran kemarin bisa menjadi panen, tetapi kenyataannya tidak sesuai,” ujarnya.

Program Ramadhan dan Event-Based Activities

Menurut Irianto, sektor restoran sempat mendapat manfaat dari program berbuka puasa bersama selama bulan Ramadhan, terutama di hotel berbintang. Program ini mampu meningkatkan pendapatan dari aspek makanan dan minuman, meskipun tingkat hunian kamar masih rendah. Selain itu, kegiatan berbasis event seperti sport tourism yang diadakan Pemerintah Kabupaten Banyumas juga berkontribusi, namun masih terbatas dalam mendukung pemulihan secara menyeluruh.

Keberlanjutan Sektor Perhotelan

Irianto menyoroti bahwa saat ini Banyumas memiliki sekitar 16 hotel berbintang dengan total kamar sebanyak 3.000 unit, serta sekitar 200 hotel nonbintang yang masih membutuhkan peningkatan tingkat hunian untuk menjaga operasional. Ia berharap kebijakan efisiensi anggaran bisa diimbangi dengan langkah strategis yang tetap mendukung pertumbuhan sektor perhotelan dan restoran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *