New Policy: Tambak udang Waingapu ditargetkan mulai beroperasi tahun depan
Tambak Udang Waingapu Ditargetkan Mulai Beroperasi Tahun Depan
Proyek Strategis untuk Budidaya Udang Berkelanjutan
Dalam upaya mendorong pengembangan sektor perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa kawasan tambak udang terintegrasi di Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT), akan mulai beroperasi pada 2027. Proyek ini bertujuan menciptakan model pertanian laut yang berkelanjutan, dengan perhatian pada ekosistem dan pengelolaan sumber daya secara optimal.
“Insyaallah tahun depan sudah ada yang bisa mulai produksi,” kata Tb Haeru Rahayu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu. Pria yang dikenal dengan nama Tebe ini menambahkan bahwa sebagian dari total unit tambak diharapkan siap digunakan sebelum proyek rampung sepenuhnya dalam tiga tahun.
Kawasan Waingapu dibangun dengan desain yang memadukan teknologi modern dan keberlanjutan, memastikan hasil panen tidak hanya dalam jumlah besar tetapi juga berdampak positif pada lingkungan. Dokumentasi terbaru per 31 Maret 2026 menunjukkan alat berat sudah aktif di lokasi, menandai proses transformasi lahan savana menjadi area tambak terfragmentasi.
Investasi Besar dan Kerja Sama Terpadu
Tambak udang ini akan berlokasi di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawal, Kabupaten Sumba Timur, NTT. Proyek tersebut dijalankan dengan konsep Integrated Shrimp Farming (ISF), yang mencakup infrastruktur dari hulu hingga hilir seperti intake air laut, tandon utama, kolam budidaya, instalasi pengolahan air limbah, serta fasilitas pendukung industri.
Luas lahan yang akan dikembangkan mencapai sekitar 2.150 hektare, dengan 1.361 hektare di antaranya sudah siap digunakan. Diperkirakan, kawasan ini mampu menghasilkan 52.000 ton udang per tahun. Untuk mewujudkan proyek ini, diperlukan investasi sebesar 500 juta dolar AS atau setara Rp7,2 triliun, terdiri dari Rp6,1 triliun pinjaman luar negeri dan Rp1,1 triliun dari dana pendamping.
Pemerintah menargetkan proyek ini sebagai contoh nyata kolaborasi antara pusat, daerah, swasta, serta masyarakat lokal, yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi di bidang kelautan.