Key Discussion: Tantang Trump, Iran Akan Tetap Kuasai Selat Hormuz

Tantang Trump, Iran Akan Tetap Kuasai Selat Hormuz

Setelah 21 jam diskusi tanpa hasil di Islamabad, Pakistan, wakil presiden Iran Mohammad Reza Aref menyatakan bahwa Teheran akan terus mempertahankan hak-hak nasionalnya terkait Selat Hormuz. Pernyataan tersebut menggambarkan upaya Iran untuk menentang kebijakan AS yang berusaha memblokade wilayah strategis tersebut. Aref mengungkapkan sikap itu melalui unggahan di akun X-nya, Minggu lalu.

Menurut Aref, komitmen Iran terhadap wilayah laut ini adalah bukti keteguhan dalam mempertahankan kepentingan rakyat. “Dari wewenang di Selat Hormuz hingga menuntut kompensasi, kami teguh pada hak-hak rakyat; ini adalah komitmen kami untuk Iran yang kuat,” kata dia, seperti dilansir Press TV.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengakui bahwa negosiasi antara kedua pihak tidak berhasil membawa perubahan signifikan. Ia menambahkan bahwa delegasi Iran tetap mempertahankan kepercayaan pada inisiatif mereka, meski pihak AS gagal memperoleh dukungan. “Rekan-rekan kami mengajukan langkah yang memiliki visi jangka panjang, namun lawan bicara tidak mampu menarik kepercayaan delegasi Iran dalam putaran ini,” ujarnya.

Kekuatan Diplomasi dan Militer

Qalibaf juga menyebutkan bahwa Teheran tidak akan menyia-nyiakan upaya untuk memperkuat pencapaian pertahanan nasional dalam 40 hari terakhir. Pernyataan itu terjadi setelah pengumuman gencatan senjata dua minggu, yang diharapkan menemukan solusi permanen terhadap perang AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

“Dari memiliki wewenang di Selat Hormuz hingga mengejar kompensasi, kami teguh pada hak-hak rakyat; ini adalah komitmen kami untuk Iran yang kuat,”

Ali Akbar Velayati, penasihat senior Pemimpin Revolusi Islam, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali “orang-orang yang cakap” Iran. Dalam unggahannya di akun X, ia menulis, “Sejarah diplomasi Iran dari Erzurum hingga negosiasi Islamabad didasarkan pada satu prinsip: ‘Melindungi Iran tercinta kita’.”

“Sejarah diplomasi Iran dari Erzurum hingga negosiasi Islamabad didasarkan pada satu prinsip: ‘Melindungi Iran tercinta kita,’”

Velayati menyamakan Selat Hormuz dengan simbol penolakan terhadap kekuatan asing, mirip dengan Selat Abu al-Hayat yang menjadi lambang perlawanan. Pernyataan ini muncul setelah 21 jam pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *