Key Strategy: Inovasi FAME dan Eceng Gondok Antar Pertamina Patra Niaga Raih Proper Emas
Inovasi FAME dan Eceng Gondok Antar Pertamina Patra Niaga Raih Proper Emas
JAKARTA – Sebuah inisiatif lingkungan yang dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga di wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) berhasil mendapatkan penghargaan Proper Emas. Pengelolaan lingkungan perusahaan tersebut dinilai oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dalam ajang Anugerah Lingkungan Proper 2025. Prestasi ini berkat penggunaan dua inovasi utama, yaitu sistem penerimaan bahan bakar FAME melalui jalur pipa serta program pemberdayaan masyarakat berbasis keberlanjutan.
Komitmen ESG yang Teruji
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, mengatakan penghargaan Proper Emas menjadi bukti keseriusan perusahaan dalam menjalankan prinsip ESG. “Pencapaian ini menunjukkan komitmen kami dalam menciptakan inovasi sosial dan lingkungan yang berkelanjutan,” tambahnya dalam siaran pers, Minggu (12/4/2026). Menurut Roberth, inovasi di Integrated Terminal (IT) Surabaya adalah satu dari tujuh unit yang meraih penghargaan serupa.
“Program Eco Inovasi Penerimaan FAME dan Lentera Pagesangan membuktikan bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari komunitas,” kata Roberth.
Transformasi Operasional dan Dampak Lingkungan
Proses penerimaan bahan bakar yang sebelumnya bergantung pada truk tangki kini diubah menjadi sistem langsung dari kapal melalui pipa. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi tetapi juga mengurangi risiko kecelakaan serta emisi karbon. Hasilnya, global warming potential berkurang hingga 45,6 persen. Sementara itu, program Lentera Pagesangan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan limbah sekaligus menjaga kualitas air sungai.
Pengelolaan Limbah yang Berkelanjutan
Dalam implementasi program ini, masyarakat terlibat aktif dalam pengolahan air limbah domestik melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Instalasi Pengolahan Air Sungai (IPAS). Filter eceng gondok yang digunakan berdampak signifikan, antara lain menghemat 345,21 m³ air per tahun, memanfaatkan 83 kg sampah organik, serta mengurangi biaya pencemaran air sebesar Rp 911.418 setiap tahun. Sebanyak 1.141 orang terlibat langsung atau tidak langsung dalam program ini.
“Perubahan lingkungan bisa dimulai dari tingkat komunitas, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menciptakan ekosistem yang lebih produktif,” ujar Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus.
Kolaborasi dan Peran Masyarakat
Kemajuan program ini tak lepas dari partisipasi masyarakat sebagai motor penggerak perubahan. Ibu Melik, tokoh masyarakat dan penggerak lingkungan, menegaskan bahwa kesadaran kolektif menjadi kunci. “Perubahan dimulai dari kesadaran bersama,” katanya. Inisiatif ini selaras dengan visi Pertamina Patra Niaga dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan bersama.