Main Agenda: Rosatom Kaji Pembangkit Nuklir Bulan Berkapasitas Raksasa untuk Industri Luar Angkasa

Rosatom Kaji Pembangkit Nuklir Bulan Berkapasitas Raksasa untuk Industri Luar Angkasa

Korporasi nuklir Rusia, Rosatom, tengah mengusulkan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Bulan dengan kapasitas yang meningkat drastis, hingga setengah megawatt, sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor industri luar angkasa. Proyek ini diharapkan menjadi fondasi untuk berbagai aktivitas teknologi di permukaan Bulan, termasuk penambangan logam berharga dan produksi bahan bakar roket dari es.

Menurut Direktur Utama Rosatom, Alexey Likhachev, unit tenaga nuklir yang saat ini dikembangkan hanya memiliki kapasitas 5 hingga 10 kilowatt, dinilai tidak memadai untuk mendukung proyek masa depan. Ia menegaskan bahwa pembangkit dengan daya hingga 500 kW menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan energi yang tinggi di Bulan. Rencana ini juga mencakup manufaktur produk kompleks secara langsung di lokasi, mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Bumi.

“Kapasitas yang lebih besar sangat penting untuk menjaga kelangsungan proyek industri di Bulan,” ujar Likhachev.

Rosatom berkolaborasi dengan Roscosmos, badan antariksa Rusia, untuk mewujudkan proyek ini. Unit tenaga nuklir yang dirancang memiliki bobot tidak melebihi 1,3 ton dan masa operasional aman selama minimal 10 tahun. Saat ini, pengembangan pembangkit kecil berkapasitas 5-10 kW sedang berlangsung, namun keinginan untuk meningkatkan kapasitas menjadi fokus utama.

Minat internasional terhadap inisiatif ini terus meningkat. Tiongkok dan India menunjukkan ketertarikan untuk berpartisipasi dalam proyek energi Bulan yang inovatif. Roscosmos memperkirakan pembangkit nuklir di Bulan dapat dioperasikan sekitar tahun 2036. Selain itu, Duta Besar Rusia Sergei Tolchenov mengungkapkan potensi kerja sama strategis dengan Kalimantan Barat di bidang energi nuklir, pengolahan aluminium, dan pendidikan.

Pembangkit nuklir Bulan ini akan menjadi penggerak utama untuk eksplorasi dan pemanfaatan sumber daya di luar angkasa. Dalam konteks global, berbagai negara, termasuk AS hingga Tiongkok, sedang merancang program pengiriman manusia ke Bulan. Salah satu titik fokus adalah kutub selatan Bulan, yang diduga mengandung kantong air, serta Taebaek, Korea Selatan, yang kini berfungsi sebagai pusat riset antariksa oleh KIGAM.

Rosatom juga mengungkapkan rencana peluncuran roket Soyuz 2.1b ke Bulan pada 11 Agustus 2023, yang diharapkan menjadi bagian dari misi eksplorasi penambangan. Dengan kapasitas energi yang lebih besar, pembangkit nuklir diharapkan mampu menerangi malam di Bulan dan mendukung infrastruktur stasiun riset internasional. Proyek ini menjadi langkah penting dalam mencapai ambisi Rusia menjadi negara pertama yang menjangkau sumber daya di lokasi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *