Pertempuran Amfibi di Selat Bali Usai Proklamasi – Ngurah Rai dan ALRI Menahan Serangan Belanda
Pertempuran Amfibi di Selat Bali Usai Proklamasi, Ngurah Rai dan ALRI Menahan Serangan Belanda
JAKARTA – Letkol I Gusti Ngurah Rai serta pasukannya berusaha membalikkan setiap serangan yang dilancarkan Sekutu dan pihak Belanda di Bali. Dalam upaya itu, Pasukan-M—angkatan laut Republik Indonesia (sekarang TNI AL)—ikut memberikan dukungan strategis. Satuan ini, yang dipimpin Kapten (Laut) Markadi Pudji Rahardjo, secara aktif menghadang operasi pendaratan besar-besaran Belanda di Cangkup, Bali, pada 13 April 1946, atau 80 tahun lalu. Serangan Belanda di perkebunan karet Pulukan gagal mengakhiri perlawanan, tetapi justru memicu peningkatan perhatian pihak kolonial dan pengerasan posisi mereka di Cungkup serta Pulukan.
Dua hari sebelumnya, Pasukan-M juga melakukan serangan terhadap markas Belanda. Meski kekuatan pihak lawan terasa lebih dominan, operasi ini menjadi bagian dari serangkaian upaya ALRI untuk memperkuat posisi pasukan Ciung Wanara yang dipimpin Ngurah Rai. Pertempuran ini akhirnya memuncak pada Puputan Margarana, 20 November 1946.
Perang Laut di Perairan Sapudi
Pada tanggal yang sama, 13 April 1946, terjadi pertarungan kecil antara kapal ekspedisi dari Sulawesi dan pasukan Belanda di sekitar Pulau Sapudi, Madura. Pertarungan ini dihadiri oleh Kapten (Laut) Haryanto, yang memimpin kapal-kapal tersebut.
“Peran Pasukan-M di Bali dimulai setelah Ngurah Rai meminta bantuan senjata dari pimpinan Markas Besar TRI di Yogyakarta. Mereka berperan dalam menahan agresi pihak Sekutu dan Belanda di awal Maret 1946,”
menurut buku Kronik Revolusi Indonesia Jilid II. Dukungan dari Pasukan-M, meski tidak mengubah skenario utama, tetapi membantu mengurangi tekanan terhadap komandan Resimen TKR Teritori Sunda Kecil, Ngurah Rai.