IMF Wanti-wanti Inflasi AS Sulit Turun Akibat Perang Iran
IMF Wanti-Wanti Inflasi AS Sulit Turun Akibat Perang Iran
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan inflasi Amerika Serikat akan mengalami hambatan lebih besar dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai level target. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyatakan bahwa sebelum konflik terjadi, lembaga tersebut memproyeksikan inflasi AS akan kembali ke angka 2 persen pada awal tahun depan. Namun, saat ini target tersebut terlihat kurang realistis.
“Sekarang, target tersebut mungkin terlambat tercapai,” ujarnya dalam wawancara dengan CBS News yang ditayangkan pada hari Minggu (12/4).
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat telah mempercepat kenaikan harga di pasar dalam negeri. Lonjakan harga bahan bakar minyak mendorong inflasi AS mencapai 3,3 persen pada Maret 2026, dengan tingkat peningkatan tiga kali lipat dibanding bulan sebelumnya, berdasarkan laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) terbaru.
Laporan World Economic Outlook terbaru akan diterbitkan oleh IMF pada Selasa depan, memberikan evaluasi terbaru tentang dampak perang Iran terhadap perkembangan ekonomi global. Georgieva menambahkan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akan direvisi ke bawah, setelah sebelumnya diperkirakan akan mengalami sedikit peningkatan. Besarnya penyesuaian ini bergantung pada durasi konflik dan kecepatan pemulihan produksi minyak serta gas alam ke level sebelum perang.