Solving Problems: Scarlett Johansson cerita tekanan jadi aktris muda awal 2000-an

Scarlett Johansson cerita tekanan jadi aktris muda awal 2000-an

Dalam wawancara dengan CBS Sunday Morning, Scarlett Johansson mengungkapkan tantangan yang dihadapinya sebagai bintang muda di Hollywood pada awal 2000-an. Menurut laporan Variety, pada masa itu, aktris perempuan muda sering kali diukur berdasarkan penampilan mereka, membuat karier mereka terasa lebih berat.

“Itu sulit. Ada tekanan besar terhadap penampilan perempuan. Peluang yang ditawarkan saat usia saya masih belia jauh lebih terbatas dibandingkan sekarang,” jelas Johansson.

Kehadirannya dalam film “Lost in Translation” pada tahun 2003 menjadi momen penting, di mana saat itu ia berusia 17 tahun. Sebelumnya, ia juga memerankan karakter dalam beberapa karya seperti “The Perfect Score”, “Match Point”, “The Prestige”, “The Other Boleyn Girl”, dan “Iron Man 2”. Menurutnya, di era awal kariernya, peran yang ditawarkan sering kali mengikuti pola yang sama: perempuan, sosok seksi, atau karakter sekunder.

Scarlett mengakui bahwa tekanan untuk terus bekerja tanpa henti membuatnya sulit menemukan peran yang sesuai. “Anda merasa setiap pekerjaan bisa jadi yang terakhir, sehingga ketika ada tawaran, merasa harus menerimanya meskipun kurang bervariasi,” kata dia.

Sebagai solusi, ia memilih untuk menikmati dunia teater di New York City. “Dunia teater memberi saya ruang untuk berkembang dan memilih peran yang lebih memberdayakan,” imbuh Johansson. Ia menambahkan bahwa setiap aktor, terutama yang muda, mengalami tekanan serupa karena industri yang sangat kompetitif.

Dalam wawancara tersebut, Scarlett juga menyoroti keinginan untuk mempertahankan popularitas. “Ketika Anda sudah mendapat perhatian, tentu ingin tetap mempertahankannya. Itu naluri alami bagi semua aktor,” tutur aktris kelahiran 1984 itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *