Latest Program: Update Perang AS-Iran: Gencatan Senjata Buyar, Warning di Selat Hormuz

Update Perang AS-Iran: Gencatan Senjata Buyar, Peringatan di Selat Hormuz

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memuncak setelah upaya mencapai kesepakatan damai dan gencatan senjata tidak memberikan hasil yang memuaskan. Kondisi ini memperparah situasi di Selat Hormuz, jalur kritis pengangkutan minyak global, yang kini menjadi titik perhatian utama. Washington bersiap untuk memblokade pelabuhan Iran, sementara Teheran mengancam akan mengambil langkah tegas jika terjadi intervensi militer di kawasan tersebut. Perubahan ini langsung berdampak pada pasar minyak dan mengganggu alur kapal.

Trump: Blokade Iran Berhasil Tekan Perekonomian

Sebelum kembali ke Washington, DC, Presiden Donald Trump mengungkapkan rencana blokade pelabuhan Iran sebagai strategi efektif untuk mengurangi keuntungan ekonomi Teheran, terutama dari sektor energi. Ia menyatakan bahwa langkah ini didukung oleh beberapa negara lain, meski tidak merinci pihak-pihak yang terlibat. “Blokade ini akan sangat berdampak,” ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera. Trump menegaskan bahwa tindakan tersebut sebagai balasan atas kegagalan perundingan terbaru antara kedua belah pihak.

Harga Minyak Meningkat Pasca-Peringatan Blokade

Pernyataan blokade langsung memengaruhi pasar minyak global, yang mengalami kenaikan tajam. Harga minyak mentah AS melonjak 8% ke US$104,24 per barel atau sekitar Rp1,7 juta, sementara harga Brent naik 7% menjadi US$102,29 per barel. Lonjakan ini memperpanjang ketidakstabilan harga sejak konflik memanas. Sebelum serangan AS-Israel pada 28 Februari, harga Brent berada di kisaran US$70 per barel. Namun, setelah ketegangan meningkat, harga sempat mencapai US$119 per barel sebelum kembali turun. Pada Jumat lalu, harga sempat mengalami penurunan 0,8% ke US$95,20 per barel, lalu kembali naik setelah rencana blokade diumumkan.

Kondisi Selat Hormuz Semakin Tegang

Perairan Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran menyatakan tidak ada kapal militer AS yang berhasil melewati jalur strategis tersebut. Teheran mengancam akan memberikan respons terhadap setiap pelanggaran. Bagi negara-negara Teluk yang anggotanya dalam GCC, kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena Selat Hormuz menjadi jalur utama ekspor minyak mereka. Data terbaru menunjukkan penurunan drastis jumlah kapal yang melintas, hanya tiga kapal dalam 24 jam terakhir—dua berbendera China dan satu Liberia—dengan kapasitas masing-masing sekitar 2 juta barel. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal yang mencapai rata-rata 100 kapal per hari.

Negosiasi Nuklir Diprediksi Memakan Waktu

Upaya perundingan antara AS dan Iran diperkirakan tidak akan cepat mencapai kesepakatan. Mantan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengingatkan bahwa proses negosiasi seperti ini membutuhkan waktu panjang dan kerja teknis yang kompleks. “Butuh 12 tahun dan usaha besar untuk mencapai kesepakatan sebelumnya. Apakah ada yang benar-benar berpikir kesepakatan bisa tercapai dalam 21 jam?” tulisnya di platform X. Kesepakatan JCPOA, yang merupakan hasil perundingan antara Iran dan negara-negara seperti AS, China, Rusia, Inggris, Prancis, serta Jerman, memungkinkan pencabutan sanksi terhadap Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *