New Policy: Breaking! Harga Minyak Meledak 7%, Sentuh US$104

Breaking! Harga Minyak Meledak 7%, Sentuh US$104

Di awal pekan, harga minyak global mengalami perubahan signifikan. Kenaikan mencapai lebih dari 7% mendorong harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kembali menyentuh level US$100 per barel. Data dari Refinitiv menunjukkan, pada Senin (13/4/2026) pukul 09.45 WIB, harga Brent kontrak Juni (LCOc1) mencapai US$102,17 per barel, naik dari penutupan Jumat pekan lalu di US$95,20 per barel. Sementara itu, harga WTI (CLc1) melonjak ke US$104,88 per barel, dibandingkan posisi sebelumnya di US$96,57 per barel.

Kenaikan tajam ini menandai kembalinya aktivitas pasar energi ke level psikologis US$100 setelah beberapa sesi sebelumnya harga sempat turun. Dalam tiga hari perdagangan, Brent telah bergerak dari rentang US$94 hingga di atas US$102 per barel. Faktor utama yang memicu fluktuasi ini adalah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, terutama setelah keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan rencana blokade kapal-kapal menuju Iran melalui Selat Hormuz.

“Kapal militer yang mendekati kawasan Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dua pekan terakhir dan akan direspons dengan tindakan tegas,” peringatan Garda Revolusi Iran.

Keputusan Trump datang setelah pembicaraan damai antara Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan untuk berakhirnya perang. Pasar mengkhawatirkan langkah ini dapat mengurangi ekspor minyak Iran hingga 2 juta barel per hari. Jika gangguan terus berlanjut, pasokan global akan semakin ketat, terutama di tengah permintaan energi yang tetap stabil.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama perdagangan minyak dunia, menjadi fokus perhatian. Jalur sempit ini sering kali memicu premi risiko pada harga minyak, terutama ketika terjadi ancaman gangguan. Arab Saudi, sementara itu, menyatakan kapasitas pengiriman melalui pipa East-West telah pulih ke sekitar 7 juta barel per hari, menjadi alternatif penting untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Ketegangan antara AS dan Iran masih menjadi sentimen utama dalam pasar. Sampai saat ini, harga minyak berpotensi tetap berada di level tinggi selama ancaman gangguan pasokan belum berakhir. US$100 kini kembali menjadi titik kritis dalam perdagangan energi global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *